Aimas, TP- Evaluasi terhadap kawasan Transmigrasi Klamono -Saigun di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, memasuki tahap akhir. Program ini bermuara pada Program Asta Cita Presiden yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama. Selama ini, ketergantungan Indonesia pada impor pangan menjadi tantangan yang harus segera diatasi melalui penguatan sektor pertanian dan peternakan di berbagai daerah.
Inisiatif evaluasi ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai model baru dalam pengembangan pertanian dan peternakan. Dimana Kabupaten Sorong dianggap memiliki potensi strategis untuk memperkuat sektor peternakan, sehingga membuka peluang besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Hal ini disampaikan Kepala Program Studi Pembangunan dan Perencanaan Kepariwisataan ITB, Alhilal Furqan kepada awak media usai mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Ekspedisi Patriot di Kantor Bupati Kabupaten Sorong, ,Kamis, (27/112025). Kegiatan tersebut melibatkan Tim Ekspedisi Patriot 2, 4, dan 5, staf OPD, kepala distrik, akademisi, serta tokoh masyarakat.
Alhilal menjelaskan, pihaknya ditugaskan oleh Kementerian Transmigrasi untuk mengevaluasi kawasan transmigrasi Klamono dan Saigun. Dalam program ini, terdapat tujuh Universitas yang terlibat, salah satunya Institut Teknologi Bandung. ITB mengirimkan lima tim untuk mengkaji berbagai aspek penting yang menjadi dasar pengembangan kawasan transmigrasi.
Aspek pertama yang dievaluasi berkaitan dengan kondisi fisik, sosial, dan lingkungan kawasan transmigrasi. Aspek kedua adalah identifikasi komoditas unggulan yang sudah berkembang atau memiliki peluang besar untuk dikembangkan guna meningkatkan ekonomi masyarakat.
Aspek ketiga menyentuh harmonisasi sosial, yakni menilai apakah terdapat potensi konflik atau ketegangan antara masyarakat transmigran dan masyarakat lokal. Menurut Alhilal, pemahaman terhadap dinamika sosial ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan di wilayah tersebut.
Selanjutnya, tim juga melakukan peninjauan terkait ketersediaan infrastruktur, mulai dari akses jalan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga ketersediaan energi listrik dan kebutuhan dasar lainnya. Infrastruktur yang layak dinilai sebagai fondasi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Poin berikutnya adalah mengevaluasi bagaimana struktur ekonomi di kawasan transmigrasi dapat dikembangkan, serta sejauh mana masyarakat dapat terlibat melalui kelembagaan ekonomi yang ada. Tim juga mempelajari perkembangan usaha rakyat sebagai bagian terakhir dari rangkaian evaluasi untuk mengetahui peluang penguatan ekonomi lokal.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan, dimulai sejak akhir Agustus hingga Desember 2025, dan menjadi tahap pertama dari serangkaian evaluasi lanjutan. Program ini akan kembali dilanjutkan pada tahun 2026. Ke depan, tim berencana mendorong model pendidikan lanjutan, termasuk peluang bagi generasi muda Papua untuk melanjutkan studi S2 dengan fokus penelitian kawasan transmigrasi berdasarkan rekomendasi yang telah disusun. [MPS-R2]




















