Manokwari, TP — Sejumlah pedagang kali lima (PKL) di sekitar lingkungan sekolah mulai mengeluhkan jumlah pembeli dan pendapatan yang menurun sejak penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seorang pedagang pentolan di sekitar SD Inpres 22 Wosi, Kabupaten Manokwari yang enggan menyebut namanya, kondisi ini mulai dirasakan sejak tahun ajaran baru lalu, sekaligus dimulainya program MBG.
Pedagang yang sudah berjualan sekitar 3 tahun terakhir ini, menambahkan, hasil dari berjualan pentolan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena cukup ramai pembeli.
“Dulu sebelum ada makan gratis masih lumayan ramai, sekarang buat makan aja susah,” katanya kepada Tabura Pos di sekitar SD Inpres 22 Wosi, Senin (8/12/2025).
Selain itu, ungkapnya, kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa hari terakhir ini juga membuat pembeli semakin berkurang, dimana aktivitas para siswa berkurang karena lebih cepat dijemput orangtuanya.
Dengan kondisi ini, ia mengaku hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp50.000 per hari. Lanjutnya, dengan pendapatan seperti ini, hanya cukup untuk makan, tetapi belum bisa menutupi biaya kos.
Dirinya berpendapat, pemerintah kurang peka dengan kebijakan makan gratis yang tentunya berdampak terhadap pedagang kecil dan UMKM yang sering berjualan di sekitar sekolah, sehingga kebijakan itu harus dievaluasi.
Menurutnya, bantuan pendidikan atau sekolah gratis lebih dibutuhkan dibandingkan pemberian makan gratis.
Pedagang lain, Emil yang juga berjualan di sekitar sekolah dalam 7 bulan terakhir, juga merasakan dampak dari kehadiran program MBG. Sebab, ungkap dia, dengan program MBG ini juga memicu kenaikan harga daging, sehingga mempengaruhi usahanya.
“Pembeli berkurang, harga bahan naik, tetapi harga pentol masih saya pertahankan, tetapi tetap sepi,” ungkap Emil.
Diakuinya, pendapatan mengalami penurunan karena pembeli semakin sedikit, sedangkan biaya produksi terus meningkat. Namun, ia tetap memilih untuk berjualan, termasuk ketika masa libur sekolah nanti.
Dirinya berharap pemerintah bisa menurunkan dan menstabilkan harga bahan pokok supaya pedagang kecil tidak semakin tertekan.
Sementara Yustina, pedagang es dan bakso mini yang berjualan sekitar 3 tahun terakhir di sekitar SD Inpres 22, Wosi pun merasakan penurunan pendapatan.
Diungkapkan Yustina, biasanya dia berjualan mulai pukul 09.00 WIT sampai pukul 15.00 WIT, dengan waktu ramai pembeli sekitar pukul 11.00 WIT. “Awal buka masih ramai, tapi sekarang agak merosot. Uangnya pada enggak ada,” kata Yustina.
Menurutnya, selain faktor ekonomi dan program MBG, kondisi cuaca ikut mempengaruhi penjualannya.
Ketika cuaca mendung atau hujan, jelas Yustina, pembeli cenderung hanya membeli bakso, sedangkan es tentunya kurang diminati.
Lanjutnya, ketika cuaca sedang panas, penjualan es dan bakso berjalan lancar. Selain penurunan daya beli, ungkap Yustina, cuaca dan adanya pemalakan menjadi kendala yang dihadapi pedagang ketika berjualan di sekitar sekolah.
Untuk itu, Yustina berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi para pedagang kecil di lapangan, bukan hanya di daerah jalan besar. [CR28-R1]




















