Asrul : Kami juga mendukung program ketahanan pangan nasional dengan menanam 1.500 bibit pohon Kelapa
Manokwari, TP – Selain pelayanan penerbitan paspor dan izin tinggal,serta pengawasan dan penindakan terhadap Warga Negara Asing (WNA) yang keluar – masuk wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakat (Kemenimipas) RI melalui Kanwil Ditjen Imigrasi dan Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Papua Barat berkomitmen mendukung program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto yang dijabarkan dengan 13 akselerasi Menteri yang menitik beratkan pada ketahanan pangan nasional dan keberlanjutan lingkungan.
Implementasi dukungan terhadap program tersebut, Kepala Kanwil Ditjen Imigrasi Papua Barat, Asrul, mengklaim bahwa pihaknya telah menanam 1.500 bibit pohon Kelapa di wilayah Papua Barat. Menurut Asrul, pihaknya memilih pohon Kelapa karena memiliki nilai manfaat tinggi, baik dari sisi ekonomi ,sosial maupun lingkungan.
Dalam pemanfaatanya sehari -hari, kata Asrul, Kelapa sudah menjadi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan industri yang memakai bahan baku dari buah Kelapa.
Asrul menjelaskan, kegiatan penanaman bibit pohon Kelapa yang dilakukan pihaknya bersama Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Papua Barat merupakan bentuk sinergi dan kontribusi nyata dalam mewujudkan visi pemerintah, untuk memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan pemanfaatan lahan sebagai sumber produktivitas ekonomi berkelanjutan.
“Jumlah pohon Kelapa yang kita tanam ini dilakukan bersama-sama dengan Kanwil Ditjen Pemasyarakat Papua Barat,” ucap Asrul saat merilis capaian kinerja Kanwil Ditjen Imigrasi Papua Barat tahun 2025 kepada wartawan di Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Manokwari, Jumat (12/12/2025).
Sebagai fasilitator pembangunan kesejahteraan masyarakat, Asrul juga mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung Bandara Udara Domine Eduard Osok (DEO) Kota Sorong dapat berstatus Bandara Internasional.
Dukungan itu diwujudkan dengan mempersiapkan perangkat-perangkat yang siap dipasang. “Kalau ruang -ruang pelayanan keimigrasian sudah disiapkan di bandara DEO, kami juga siap memasang perangkat. Untuk keadaan mendesak kami juga sudah siapkan mobile unit untuk mendukung pelayanan di bandara DEO sebagai bandara Internasional,” terang Asrul.
Untuk diketahui, tambah Asrul, penerbangan internasional pertama kali sudah dilakukan yakni, dari Papua Nugini – Sorong. Dalam penerbangan perdana itu membawa rombongan Menteri Pertahanan RI, Syarif Samsudin.
“Ditjen Imigrasi berkomitmen memberikan dukungan penuh agar pengembangan bandara DEO Sorong dapat berjalan optimal, dan turut mendorong pertumbuhan ekonomo serta konektivitas kawasan timur Indonesia,” pungkas Arsul.
Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha Kanwil Ditjen Imigrasi Papua Barat, Arsi Aditya menambahkan, status Bandara DEO Sorong menjadi Bandara Internasional, akan diikuti dengan status Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) dari Kememinipas RI .
“Kalau tidak mendapatkan status TPI, tidak bisa dilakukan pemeriksaan Imigrasi di bandara DEO Sorong. Prosesnya bertahap. Apakah akan ada pemanfaatan lain dari bandara DEO seperti ,menjadi bandara Embarkasi Haji untuk wilayah Papua dan Maluku, mungkin kementerian terkait yang bisa menjelaskannya,” tandas Aditya.[K&K-R2]




















