Manokwari TP – Pusat Penelitian Bahasa dan Budaya (Puspadaya) Universitas Papua (Unipa) Manokwari mengadakan sosialisasi dan pelatihan merajut Noken bagi Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Ko-Katedral Santo Agustinus Manokwari di Aula Santo Vincensius, Jl. Brawijaya, Manokwari, Minggu (8/2/2026).
Pastor Paroki Santo Agustinus Manokwari, RD Januarius Vaenbes mengatakan, Noken bukan hanya sekedar tas tradisional, tetapi simbol kerahiman dan daya hidup masyarakat Papua.
“Melalui jemari yang merajut ini, kita tidak hanya membuat sebuah tas, tetapi kita sedang merajut persaudaraan dan menjaga identitas yang Tuhan titipkan melalui leluhur kita. OMK harus bangga membawa identitas ini ke manapun mereka pergi,” tandas Pastor Vaenbes, dalam sambutannya.
Sementara Dr. Monika Maria Nauw, Kepala Puspadaya Unipa, sekaligus narasumber, memberi pemaparan filosofis tentang makna di balik setiap simpul Noken.
Dia mengatakan, Noken adalah ‘rahim kedua’ bagi perempuan Papua dan simbol kerja keras bagi laki-laki Papua.
“Noken adalah jati diri. Kita tidak boleh membiarkan keterampilan ini berhenti di generasi orang tua kita. Puspadaya Unipa berkomitmen terus mendampingi komunitas-komunitas muda agar literasi budaya kita tetap hidup, bukan hanya dalam buku, tapi dalam praktek sehari-hari,” kata Minika Nauw, dalam materinya.
Monika Nauw mengungkapkan kekagumannya atas antusiasme para pemuda dan ibu-ibu yang tekun mengikuti tahap demi tahap pembuatan Noken, mulai pengenalan serat sampai teknik rajutan dasar.
“Saya melihat cahaya harapan di mata adik-adik OMK hari ini. Tantangan terbesar kita adalah gempuran produk instan. Namun hari ini, mereka membuktikan bahwa merajut Noken adalah cara mereka mencintai tanah ini. Kita ingin Noken terus bernafas di tangan orang muda,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta didampingi beberapa orang yang ahli merajut Noken. Mereka terlihat dengan sabra mengarahkan tangan-tangan muda OMK dan ibu-ibu untuk membentuk simpul-simpul serat alami.
Seperti diketahui, Puspadaya Unipa telah membangun sebuah komunitas ‘Perempuan Pecinta Noken’ sehingga melalui kegiatan ini menjadi langkah awal membentuk komunitas perajut muda yang mampu menghasilkan karya Noken berkualitas, baik untuk pelestarian mandiri maupun pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. [CR29-R1]





















