Manokwari, TP – Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari kembali memperkuat barisan Sumber Daya Manusia (SDM) di Tanah Papua dengan meluluskan sebanyak 224 wisudawan sarjana hukum angkatan ke-41 tahun 2026.
Sebanyak 224 wisudawan dan wisudawati terdiri dari 102 lulusan bidang pidana, 57 lulusan bidang perdata, dan 65 lulusan bidang hukum pemerintahan.
Dari total lulusan tersebut, sebanyak 220 orang meraih predikat sangat memuaskan, sementara 4 orang lainnya memperoleh predikat memuaskan.
Hal tersebut diungkapkan, Ketua STIH Manokwari, Filep Wamafma dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Program Studi Ilmu Hukum, STIH Manokwari yang berlangsung di Aston Niu Hotel, Manokwari, Jumat (27/3/2026).
Dikatakan Wamafma, peran vital institusi ini sebagai pencetak kader pemimpin di sektor eksekutif maupun legislatif selama lebih dari setengah abad.
Ia mengisahkan, sejak berdiri pada 17 Februari 1975, STIH Manokwari kini telah memasuki usia 51 tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan di tanah Papua dalam bingkai Indonesia.
Menurut Wamafma, dari aspek politik, kehadiran STIH Manokwari tidak terlepas dari konteks sejarah pasca Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, yang menjadi simbol hadirnya negara melalui sektor pendidikan di Papua.
“STIH Manokwari adalah simbol kehadiran negara dalam wujud pendidikan di tanah Papua. Dari sini lahir banyak kader pemimpin daerah,” kata Wamafma dalam sambutannya pada Rapat Senat Terbuka STIH Manokwari.
Dengan bangga, ia mengungkapkan, sejumlah alumni STIH Manokwari telah menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari kepala daerah, wakil kepala daerah, hingga anggota legislatif diberbagai provinsi di tanah Papua.
Sedangkan, lanjut dia, dari Aspek Pendidikan, kontribusi STIH Manokwari juga dinilai sangat nyata. Ia menyebut banyak alumni mengisi posisi penting di birokrasi pemerintahan, sektor swasta, maupun lembaga penegak hukum seperti hakim, jaksa, dan pengacara.
Lebih lanjut, ungkap Wamafma, dalam perjalanan selama 51 tahun, STIH Manokwari juga menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, terutama di tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin ketat.
Untuk itu, sambung dia, pihaknya terus melakukan pembenahan dan transformasi, dengan fokus pada tiga pilar utama, yakni pendidikan yang unggul, peduli, dan berkarakter.
Ia juga menyentil dukungan pemerintah daerah dalam pembiayaan pendidikan tinggi di Papua Barat, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang sebagian besar berasal dari kalangan petani dan nelayan.
“Tidak mungkin kita membebankan biaya tinggi kepada orang tua. Karena itu, dukungan APBD kabupaten dan provinsi sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Selain itu, STIH Manokwari juga terus mengembangkan kurikulum yang adaptif serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga pengajar, guna menjawab kebutuhan zaman.
“Kami terus berupaya menghadirkan pendidikan hukum yang relevan dengan perkembangan saat ini,” tandas Wamafma. [FSM-R2]




















