Manokwari, TP – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Papua Barat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakuka stabilisasi harga dengan Gerakan Pangan Murah (GPM) pasca-Idul Fitri 2026.
Humas BI Papua Barat, Christian J. Urbinas mengatakan, kegiatan ini tindak lanjut dari hasil pemantauan harga di pasar yang menunjukkan ada kenaikan dan fluktuasi pada sejumlah komoditas pangan.
GPM pasca-Idul Fitri 2026, Kantor Perwakilan BI langsung mengintervensi harga sejumlah komoditas yang mengalami lonjakan harga, seperti cabe dan bawang merah.
Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan, harga cabe rawit berada di kisaran Rp80.000 per kg, menurun dibandingkan pasca-Lebaran yang sempat mencapai Rp120.000 – Rp150.000 per kg.
Untuk harga bawang merah tercatat di kisaran Rp60.000 – Rp65.000 per kg meningkat dibandingkan Februari yang ada di kisaran Rp55.000 per kg.
Dijelaskan Urbinas, komoditas berupa tomat pun mengalami kenaikan harga sekitar Rp27.00 per kg dari sebelumnya Rp20.000 – Rp25.000 per kg.
“Kenaikan semua akibat meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan di tingkat petani. Sebagai bentuk intervensi, pemerintah memberi subsidi melalui mekanisme distribusi dan potongan harga ke masyarakat dalam kegiatan pasar murah,” jelas Urbinas kepada para wartawan di sela-sela GPM, di depan eks Kantor BI, Kamis (2/4/2026).
Dari pantauan Tabura Pos, komoditas yang dijual diantaranya beras SPHP Rp60.000, minyak goreng 2 liter Rp30.000, minyak goreng 5 liter Rp100.000, cabe Rp65.000 per kg atau Rp35.000 per setengah kg, bawang putih Rp40.000 per kg, dan bawang merah Rp50.000 per kg.
Untuk telur lokal dijual Rp55.000 per rak dari harga normal Rp75.000, sedangkan telur asal Surabaya dijual Rp65.000 per rak. Ditambahkan Urbinas, GPM kali ini, pihaknya membagikan kupon dan KTP agar penyaluran tepat sasaran dan menghindari penimbunan.
Menurutnya, dengan mekanisme itu, setiap pembeli bisa terdata dan tidak melakukan pembelian berulang selama kegiatan.
“Langkah ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia memitigasi, menjaga stabilitas harga, khususnya pada komoditas pangan strategis yang mengalami kenaikan signifikan di pasaran,” katanya. [SDR-R1]




















