Jemput Bola Kebutuhan Pokok, Dijual Langsung ke Masyarakat
Sorong, TP – Langkah nyata dan inovatif kembali dihadirkan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Papua Barat Daya guna menekan kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang belakangan ini makin terasa beban beratnya oleh masyarakat luas. Terobosan tersebut diberi nama Program Sinergi Gerakan Pangan Murah Keliling atau disingkat Sigerak PBD, yang secara resmi diluncurkan dan dibuka di Lapangan Apel Kantor Gubernur Papua Barat Daya, Selasa (12/5/2026).
Momen peresmian ditandai dengan kegiatan pelepasan armada kendaraan pengangkut logistik pangan yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Papua Barat Daya, didampingi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia wilayah Papua Barat, Pimpinan Perum Bulog Cabang Sorong serta seluruh unsur pimpinan dan anggota tim teknis TPID.
Berbeda dengan pola kegiatan sebelumnya, program ini mengandalkan sistem pelayanan bergerak. Armada mobil boks khusus yang telah disiapkan akan membawa berbagai jenis bahan pangan dan menjualnya langsung ke masyarakat dengan cara mendatangi satu per satu titik pemukiman maupun pusat keramaian yang telah ditetapkan. Komoditas yang dijual merupakan kelompok barang yang menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga di daerah, di antaranya cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, telur, minyak goreng, beras, tepung dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat, Setian, menyampaikan bahwa hingga saat ini angka inflasi di wilayah provinsi tercatat mencapai 3,85 persen secara tahunan. Angka ini dinilai cukup tinggi dan telah melampaui batas sasaran yang ditetapkan, yakni sebesar 2,5 persen saja. Oleh sebab itu, diperlukan cara kerja baru yang lebih tepat sasaran dan berdampak nyata untuk mengembalikan stabilitas harga ke batas yang wajar dan terkendali. Mengingat posisi harga pangan memiliki peran sangat sentral serta menyangkut hajat hidup seluruh lapisan masyarakat, penanganannya harus menjadi prioritas utama.
“Penyusunan dan pelaksanaan program ini telah diselaraskan sepenuhnya dengan kerangka kerja pengendalian inflasi yang dikenal dengan konsep empat pilar utama, yaitu menjamin ketersediaan pasokan, menjaga keterjangkauan harga, melancarkan sistem distribusi, serta membangun pola komunikasi yang efektif dan terbuka,” ungkap Setian.
Melalui mekanisme kerja yang diterapkan dalam Sigerak, setidaknya dua sasaran utama dari kerangka kerja tersebut dapat diselesaikan sekaligus. Pertama soal harga yang lebih murah dan terjangkau, karena barang disalurkan langsung dari lembaga penyalur utama hingga ke tangan konsumen tanpa melalui banyak perantara yang menambah biaya. Kedua soal kelancaran distribusi, karena sistem bergerak memungkinkan barang dapat dihadirkan hingga ke lingkungan masyarakat yang sulit dijangkau pasar konvensional.
Program ini direncanakan berjalan terus menerus sepanjang tahun 2026 sesuai kesepakatan dan komitmen seluruh pihak yang tergabung dalam tim pengendali inflasi. Diharapkan keberadaannya mampu memperkuat serta menyempurnakan kinerja gerakan pangan murah yang sudah ada selama ini agar manfaatnya makin terasa.
Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, menekankan agar peluncuran ini tidak hanya berhenti sebagai seremonial semata, melainkan menjadi bukti kesungguhan dan kerja sama seluruh elemen pemerintah serta lembaga terkait. Pola kerja yang diterapkan merupakan wujud nyata strategi “menjemput bola”, di mana solusi dan manfaat dibawa langsung mendekati masyarakat yang membutuhkan.
Pada tahap awal pelaksanaan, baru tersedia satu unit armada operasional dan wilayah Kota Sorong ditetapkan menjadi lokasi sasaran pertama sekaligus sebagai proyek percontohan. Apabila hasil penilaian menunjukkan dampak yang positif dan signifikan, maka ruang lingkupnya akan diperluas secara bertahap ke kabupaten‑kabupaten lain dengan penambahan jumlah kendaraan operasional yang disesuaikan kebutuhan.
Secara jadwal, armada diharapkan beroperasi sebanyak 10 hingga 15 kali dalam satu bulan, namun jumlah dan lokasinya tetap disesuaikan dengan hasil pemantauan dan evaluasi kondisi pasar serta tingkat inflasi yang berkembang. Penetapan jadwal, lokasi penyambangan maupun jenis barang yang dibawa nantinya akan dibahas dan ditetapkan dalam rapat koordinasi rutin seluruh anggota tim teknis TPID.[CR24-R2]




















