Oleh: Jasahdin Saragih
Manokwari, TP – Apa yang dulu diprediksi bahwa, Manokwari tidak aman, sulit transportasi, tempat tinggal yang tidak layak, tidak menjadi suatu hambatan yang sungguh. Para peserta menyaksikan, Manokwari aman, tidak ada pemberitaan kasus kriminal selama PESPARAWI Nasional XIV.
PESPARAWI telah menanamkan kesan yang mendalam bagi masyarakat Manokwari maupun utusan 38 provinsi yang menjadi peserta lomba. Meskipun telah kembali ke daerah asal, antar warga Manokwari dan peserta masih terjalin komunikasi, setidaknya via whatsapp saling bertanya kabar dan mengirimkan ayat-ayat Alkitab.
Ada beberapa kontingen yang mengalami masalah serius dalam transportasi, namun itu menjadi persoalannya internal manajemen internalnya sendiri.
Tempat tinggal bagi para peserta, walaupun bukan dihotel mewah namun semua dapat dikatakan layak. Dalam segala hal Manokwari telah berbenah menjadi kota yang ramah, aman, nyaman dan mempesona.
Bagi warga Manokwari, PESPARAWI serasa menguatkan hadirnya suka cita di Kota Injil ini. Sepanjang jalan dipenuhi lampu-lampu yang indah. Lampu-lampu lalu lintas persimpangan hampir semua berfungsi.
Mama-mama yang berjualan dikerumuni pembeli, terlebih yang menjual noken dan durian, pemandangan ini terlihat di pasar tradisional, serasa lebih ramai dari hari-hari biasanya.
Berdirinya baliho, umbul-umbul dan terbentangnya spanduk diberbagai tempat, menyemarakkan suasana bahwa memang sedang berlangsung suatu “Pesta”.
Lapak jualan yang semrawut sepanjang jalan kini dibersihkan dan ditata rapi. Nyaris tidak terlihat orang mabuk dijalan, baik pada malam maupun pagi.
Pada masa Piala Dunia sebelumnya, hampir tiap hari kita menyaksikan pawai para fansnya, yang berkendara memekakkan telinga dan biasanya mengabaikan ketentuan berkendara di jalan raya.
Namun, ketika berlangsungnya PESPARAWI, para penggemar sepertinya menahan diri atau menyadari menjaga marwah Kota Injil yang sedang melaksanakan tanggung jawab sebagai tuan rumah suatu perhelatan Iman.
Ketika kita berjalan-jalan seputar kota, kita menyaksikan diberbagai tempat para utusan dari berbagai provinsi penyampai Nyanyian Pujian di Mezbah Tuhan.
Biasanya mengenakan pakaian yang bertuliskan provinsi asalnya dan tanda pengenal yang tergantung dileher.
Semua terlihat dalam suka cita, baik saat berbelanja, berfoto ria maupun sekedar jalan-jalan. Suatu pembuktian bahwa, Kota Manokwari adalah kota yang aman dan nyaman, membalikkan asumsi sebelumnya.
Seperti biasanya menghadiri suatu perhelatan, menjelang berakhir dan setelah berakhirnya penyelenggaraan PESPARAWI, orang-orang yang akan pulang ke daerah asalnya akan mencari oleh-oleh. Biasanya oleh-oleh yang bercirikhas suatu daerah termasuk merchandise evet.
Terdengar beberapa keluhan dari para tamu, terkait sulitnya mendapatkan oleh-oleh yang bertandakan PESPARAWI. Biasanya berbagai handicraft, seperti gantungan kunci, pulpen, boneka, topi, kaos dan lain-lain banyak yang menjual. Namun, kali ini sangat susah mendapatkan barang-barang tersebut.
Selama PESPARAWI, memang wajah Kota Manokwari berubah, suka cita yang dirasakan para utusan dari berbagai provinsi tersebut juga dirasakan warga Manokwari.
PESPARAWI telah selesai, apakah kota ini dapat mempertahankan pesonanya, keindahannya dan tampilannya yang ramah? Lampu-lampu dan hiasan kota dapatkah tetap kita nikmati?
Kebersihan kota dimana tidak ada sampah dijalan-jalan? Orang-orang berbaris memegang kardus di tengah jalan bisakah tidak usah lagi? Lapak dan pondok jualan dipinggir jalan tertata rapi? Pawai fans bola tetap terkoordinasi, dan tertib?
Salah satu penyebab masalah yang lazim di kota ini adalah orang mabuk. Mabuk memang tidak dapat dihindari kalau mengonsumsi minum beralkohol (minol) ditambah minol sudh dilegalkan.
Namun seandainya mabukpun jangan sampai mengganggu kehidupan orang lain, atau lebih baik lagi mabuk tidak dilihat oleh siapapun.
Sehingga Kota Injil ini tetap menjadi aman, nyaman, ramah dan mempesona. Yang akan membuat siapapun, dari manapun, memiliki kerinduan untuk berkunjung ke kota ini.
Pada saat PESPARAWI telah membuktikan bahwa, kita semua dapat melakukannya. Selanjutnya, setelah PESPARAWI, kembali kepada kita semua, apakah kita bisa berkomitmen menjaga citra indah Kota Injil ini? [***]




















