Manokwari, TP – Para penjual pinang di Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat mengeluhkan kenaikan harga buah sirih yang sangat tinggi belakangan ini. Bahkan, hargaya bisa menembus Rp650.000 sampai Rp700.000 per kg.
Mince, seorang penjual pinang di Pasar Wosi, mengatakan, dengan kenaikan harga buah sirih, dirinya sebagai penjual pinang kesulitan memperoleh pasokan buah sirih segar. Apalagi, sekarang harga buah sirih melonjak sangat drastis dibandingkan sebelumnya.
Dia mengaku, sebelum ada kenaikan harga buah sirih yang sangat drastis, mereka sebagai penjual pinang bisa membeli buah sirih dengan harga sangat terjangkau.
“Harganya sudah mencapai Rp700.000 per kg. Sirih sangat mahal dan sangat susah kami dapat, karena pedagang sirih, ada yang tidak menjual sirih lagi dengan berbagai alasan,” ungkap Mince yang ditemui Tabura Pos di Pasar Wosi, Manokwari, Kamis, 17 September 2026.
Hal senada diutarakan penjual pinang lainnya, Alfin. Harga buah sirih, kata Alfian, memang sudah mengalami kenaikan yang sangat tinggi.
“Kita beli dari pedagang sirih yang ada di Kota Jayapura. Mereka jual ke kita pedagang di Manokwari sudah mencapai Rp650.000 untuk satu kilonya. Bahkan, ada yang harganya bisa tembus Rp700.000 per kilonya,” rinci Alfian yang ditemui Tabura Pos di Pasar Wosi, kemarin.
Diakuinya, penjual buah sirih di Manokwari sudah sangat sedikit, sehingga mau tidak mau, sebagai penjual pinang, mereka terpaksa membelinya dari luar Manokwari untuk kembali dijual di pasaran.
“Memang antusias masyarakat, khususnya pembeli pinang buah di Kota Manokwari sangat banyak. Kami menjual pinang satu tumpuk harganya Rp10.000, dengan satu buah sirih. Ada juga yang harga Rp20.000 untuk satu tumpuk, dengan satu buah sirih,” rinci Alfian.
Menurutnya, sebelum ada kenaikan harga buah sirih di pasaran seperti sekarang, mereka biasa membeli dengan harga yang masih sangat terjangkau, Rp30.000 sampai Rp50.000 per kg. “Kami kewalahan mendapatkan sirih, sedangkan antusias masyarakat membeli pinang buah dan sirih sangat banyak di Pasar Wosi,” papar Alfian.
Diungkapkannya, kenaikan harga buah sirih di pasaran, khususnya lagi di Kota Manokwari, disebabkan cuaca panas dan tidak ada hujan, sehingga banyak yang menanam pohon sirih mati dan tidak berkembang.
“Cuaca saat ini lagi musim kemarau panjang, hampir di setiap wilayah kota dan perkampungan. Ini juga yang menjadi salah satu alasan langkahnya buah sirih di Manokwari,” terangnya.
Alfian berharap, kenaikan harga buah sirih di pasaran saat ini tidak dimanfaatkan oknum pedagang lain, bermain dengan sengaja menjual lebih tinggi lagi, karena akan mempengaruhi daya beli masyakarat. [CR18-R1]










