Sorong, TP — Sorong Modern City hadir bukan sekadar pusat belanja baru, melainkan penanda perubahan zaman. Pesan penting ini tegas saat Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, meresmikan SMC Jumat (23/10). Pesannya adalah, roda industri tidak menunggu kita siap. Pilihannya jelas, belajar dan beradaptasi, atau perlahan tergilas oleh perubahan yang terus berjalan.
Bangunan empat lantai seluas sekitar 33.700 meter persegi kini berdiri di kawasan reklamasi Jalan Yos Sudarso. Sorong Modern City (SMC) menghadirkan berbagai merek nasional di bidang ritel, supermarket, hiburan, olahraga, dan kuliner sebagai bukti tumbuhnya investasi dan dinamika ekonomi baru di ibu kota Provinsi Papua Barat Daya.
Namun di balik kemegahannya, ada tantangan besar yang harus disambut bersama. Modernisasi tidak hanya menuntut pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kehadiran pusat perbelanjaan modern tidak harus dipandang sebagai ancaman. Justru, ini momentum untuk mengevaluasi cara berbisnis dengan memperbaiki pelayanan, menjaga kualitas produk, memanfaatkan teknologi, dan memahami kebutuhan konsumen yang terus berubah. Persaingan kini bukan soal siapa punya barang, tetapi siapa yang mampu memberi nilai lebih bagi pelanggan.
Investasi baru membuka lapangan kerja, tetapi lowongan tidak otomatis menjadi milik warga lokal. Kemauan belajar, kedisiplinan, keterampilan, dan profesionalisme menjadi kunci agar masyarakat sendiri yang menikmati buah pertumbuhan ini — jangan sampai kita hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Pemerintah dan pengelola kawasan pun diingatkan untuk membuka ruang kolaborasi. Modernisasi tidak boleh hanya terlihat dari gedung megah, tetapi harus terasa dari tumbuhnya UMKM lokal, terbukanya kemitraan, dan naiknya kesejahteraan warga.
Pada akhirnya, yang bertahan di masa depan bukan yang paling besar, melainkan yang paling cepat beradaptasi. Sudah siapkah kita menyambut perubahan itu? [CR30-R2]










