Manokwari, TP – Yayasan Bingkai Cerita Rakyat (Bicara) menggelar pameran foto hasil pelatihan Jurnalisme Warga (Juwara) IV bertemakan “Potret Ekonomi Restoratif di Kampung Mubraidiba dan Kampung Dindey” dipusatkan di Fakultas Kehutanan, Universitas Papua (Fahutan-Unipa), Selasa (27/10/2026).
Dekan Fahutan Unipa, Elieser Y.I. Viktor Sirami mengatakan, jika memperhatikan karya-karya yang ditampilkan hari ini, mungkin secara kasat mata terlihat sebatas foto atau gambar biasa.
“Tapi, ada pepatah lama yang mengungkapkan bahwa, sebuah foto mengandung seribu cerita. Ini bukanlah kegiatan sederhana. Tahap pameran hari ini, pastinya ada persiapa yang matang,” kata Sirami dalam sambutan pembukaan kegitan tersebut.
Menurut Sirami, pameran foto hari ini merupakan hal yang sangat positif, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Kehutanan, kegiatan ini menjadi sebuah kesempatan dan pengalaman belajar yang sangat berharga.
Ia berharap, jika ke depannya dilaksanakan kegiatan serupa, akan lebih banyak lagi mahasiswanya ikut terlibat, baik dari Program Studi Kehutanan maupun Program Studi Lingkungan.
Sirami menilai bahwa, melalui foto-foto hari ini, semua pihak dapat menyaksikan gambaran nyata aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan dan menjaga kawasan hutan. Bahkan ada foto yang menampilkan tangkapan ikan serta potensi lokal lainnya.
“Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Kita tidak perlu gunakan kata-kata yang panjang lebar, melainkan cukup menampilkan fakta dan realitas masyarakat di sekitar kawasan hutan melalui potret-potret sederhana yang mempunyai makna yang mendalam,” tandas Sirami.
Sementara Itu, Direktur Eksekutif BICARA, Andi S.B. Saragih mengatakan, agenda ini tidak lebih ke fotografi tetapi lebih fokus pada foto bercerita, bagaimana melatih peserta menyampaikan pendapat, pikiran, dan membangun komunikasi dengan masyarakat kampung.
Kedua, kata Saragih, melatih para peserta untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, bagaimana cara menyampaikan sesuatu dengan baik serta menyuarakan isu-isu yang ada di kampung.
“Kami memilih Mubarandiba dan Indey karena dua kampung ini kami lihat secara digital kurang dipublikasikan. Ini yang menjadi alasan kita memilih dua kampung ini,” kata Saragih dalam sambutannya.
Dijelaskan Saragih, saat ini pihaknya fokus pada isu ekonomi restoratif, tapi ke depan mungkin akan mendorong isu-isu yang lain.
“Saat ini kami fokus pada foto stroy, tapi kedepan kami akan masuk pada agenda foto voice, bagaimana mengorganisir masyarakat agar mereka sendiri yang akan menyuarakan isu-isu yang ada di kampung, kami respon baik permintaan Pak Dekan Fahutan terkait keterlibatan mahasiswa Fahutan,” tandas Saragih. [FSM]










