Bintuni, TP – Hasil penelitian Bappelitbangda Kabupaten Teluk menunjukkan adanya kesenjangan antara metode pembelajaran saat ini dengan kebutuhan perkembangan anak Papua. Menjawab hal tersebut, Bappelitbangda Kabupaten Teluk Bintuni menggelar Workshop Peningkatan Kompetensi Guru di Gedung Women’s Center, Selasa (27/10).
Sebanyak 86 guru dan kepala sekolah dari 22 SD di empat distrik dibekali kemampuan untuk memahami potensi anak, beradaptasi di era digital, serta memperkuat jembatan antara sekolah dan masyarakat.
Kegiatan ini berangkat dari hasil penelitian dan pengembangan Bappelitbangda tahun 2025–2026 terhadap 22 sekolah dasar di Distrik Bintuni, Manimeri, Tuhiba, dan Argosigemerai. Ditemukan perlunya peningkatan kompetensi guru secara menyeluruh, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendidik yang memahami karakteristik anak Papua dan menjadi penggerak perubahan di masyarakat.
“Pendidikan merupakan investasi masa depan daerah. Oleh sebab itu, guru perlu dibekali kemampuan yang memadai agar dapat mempersiapkan generasi muda Teluk Bintuni yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan zaman,” ungkap Boni Umpes dalam laporan panitia.
Selama kegiatan, peserta memperoleh tiga materi utama yakni, guru sebagai pemantik potensi, guru kompeten di era digital, guru sebagai jantung masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan terbentuk komitmen bersama, rencana tindak lanjut sekolah, serta lahirnya Forum Guru Penggerak Teluk Bintuni Zona 1.
Dalam sambutan Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, S.E., M.H., dibacakan Plt. Kepala Bappelitbangda, Rifaldhi Kwando, S.STP., M.AP., menegaskan bahwa masa depan Teluk Bintuni tidak hanya bergantung pada kekayaan alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Guru memegang peran sentral dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.
Bupati menyampaikan empat pesan penting bagi para guru. Pertama, tingkatkan kompetensi secara berkelanjutan dan terbuka terhadap inovasi dan pengembangan diri. Kedua, Utamakan kebutuhan setiap murid dengan pembelajaran yang inklusif dan berkeadilan. Ketiga, Bangun karakter melalui keteladanan , dimana kecerdasan harus beriringan dengan moral. Keempat. Terapkan hasil workshop secara nyata, bukan sekadar dokumen, tapi perubahan di ruang kelas.
Pemerintah daerah mengakui tantangan luasnya wilayah dan keterbatasan akses di daerah terpencil. Pemerataan pendidikan, peningkatan literasi dan numerasi, serta pemanfaatan teknologi terus didorong, tanpa melupakan nilai kearifan lokal dan pendidikan karakter.
“Masa depan Teluk Bintuni ditentukan oleh apa yang kita lakukan di ruang-ruang kelas hari ini. Di tangan para guru, kita mempersiapkan calon pemimpin, tenaga profesional, wirausahawan, ilmuwan, dan generasi penerus yang akan membangun daerah ini,” pesan Bupati menutup sambutannya. [CR25-R2]










