Manokwari, TP — Komoditas kopi Arabika dari Kampung Kwau, Distrik Mokwam, berpotensi melangkah lebih jauh ke pasar yang lebih luas dan bernilai tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat bekerja sama dengan Puslitkoka Jember menggelar pelatihan teknis budidaya dan pengolahan pascapanen bagi 20 petani setempat, guna meningkatkan mutu, kontinuitas pasokan, dan daya saing produk unggulan daerah ini.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 4–5 November 2026, dibuka oleh Kepala Unit Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif dan Syariah KPw BI Papua Barat, Akhmad Yudha Pahlevi. Pelatihan ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi petani, mulai dari keterbatasan bibit unggul, teknik budidaya yang belum optimal, hingga belum konsistennya mutu hasil panen.
Akhmad Yudha Pahlevi menegaskan, pengembangan kopi di Kampung Kwau memiliki nilai strategis yang ganda — tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat adat, tetapi juga memperkuat citra dan potensi kawasan yang sekaligus dikenal sebagai destinasi ekowisata.
“Kawasan Mokwam dan Kwau memiliki keunggulan agroklimat yang sangat ideal bagi kopi Arabika berkualitas tinggi, sekaligus telah dikenal luas sebagai destinasi ekowisata,” ujar Yudha.
Melalui pendampingan terpadu dari hulu ke hilir, Bank Indonesia berkomitmen membantu petani beralih dari pola tanam tradisional menuju praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices), sehingga biji kopi yang dihasilkan memiliki standar mutu yang konsisten, berdaya saing pasar, dan memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih optimal.
Pelatihan dihadiri pula oleh Kepala Distrik Mokwam Septer Wonggor, Kepala Kampung Kwau Yustinus Mandacan, dan Kepala Suku Semuel Mandacan, dengan menghadirkan dua peneliti Puslitkoka, Rais Widiyanto dan Rizky Wiradinata, sebagai instruktur teknis.
Materi pelatihan mencakup sisi hulu maupun hilir. Di sisi hulu, petani mempelajari teknik pemilihan klon unggul, manajemen jarak tanam, pemangkasan, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama terpadu. Sementara di sisi hilir, difokuskan pada standardisasi mutu petik merah, proses fermentasi, pengeringan higienis hingga kadar air maksimal 12,5 persen, serta pengenalan dan penggunaan sarana pascapanen modern seperti mesin pengupas buah, pengering tenaga surya, dan mesin pemilah biji.
Peneliti Puslitkoka Jember, Rais Widiyanto, menjelaskan bahwa kunci utama pembentukan cita rasa khas kopi spesialti terletak pada kedisiplinan penanganan pascapanen. Dengan transfer teknologi dan penggunaan alat yang tepat, proses pengolahan dapat berjalan lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas biji kopi.
Bank Indonesia berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diserap dapat langsung diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan oleh para petani. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendorong hilirisasi komoditas lokal, memperkuat ekosistem UMKM berbasis masyarakat adat, serta mendukung ketahanan ekonomi Papua Barat yang mandiri dan berdaya saing. [SDR-R2]










