Oransbari, TP – Selamat Hari Guru Nasional, adalah kata-kata yang diungkapkan Kapolsek Oransbari, Ipda Irawan SP, saat membuka kisahnya mengenang jasa para guru yang telah menjadikannya berhasil sebagai seorang anggota Polri saat ini.
“Tanpa guru, kami bukan siapa-siapa, tanpa bimbingan bapak ibu guru, kami tidak akan sukses seperti saat ini,” ucap Irawan usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2021, di halaman SD Inpres 08 Oransbari, Kabupaten Mansel, Kamis (25/11).
Lanjut Irawan, tanpa wejangan bapak ibu guru, seseorang tidak akan bisa menggapai cita-citanya dan meniti karir hingga menjadi pemimpin.
Ia mengatakan, betapa berat tugas seorang guru, karena diharuskan melayani dan mengayomi anak didik mereka dengan berbagai karakter yang labil. Tetapi berkat kesabaran seorang guru untuk tetap mau mendidik dan membina anak didiknya, tanpa mengeluhkan rasa capek, guru tetap mendampingi dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.
Mengingat perjuangan dan pengabdian guru, Kapolsek Oransbari saat bercerita hingga menitihkan air mata, karena bimbingan seorang guru akhirnya bisa menjadikan dia sebagai abdi negara yang tergabung dalam Institusi Polri.
“Kalau mengenang tentang jasa bapak ibu guru, betapa bangganya saya akan perjuangan mereka karena dengan sabar sudah mengajarkan kami tentang ilmu yang berguna bagi masa depan kami,” kisah Irawan dengan penuh haru.
Bercerita lebih lanjut tentang masa Pendidikan Dasar 9 Tahun. Pria muda berpangkat Iptu ini mengisahkan, dia lahir dan besar di Jayapura (Kala itu, Irian Jaya), hingga menyelesaikan pendidikan SD, SMP dan SMA di Jayapura.
Hal yang paling berkesan dalam hidupnya semasa sekolah, sambung dia, adalah ketika duduk di bangku Sekolah Dasar di SD Yapis Jayapura. Kenangan yang paling tidak bisa dia lupakan adalah didikan guru yang keras dan saat acara perpisahan kelulusan siswa kelas-6.
Saat itu, terangnya, merasa begitu berat berpisah dengan bapak ibu guru yang sudah mendidiknya selama 6 tahun, bahkan menjadi orang tua bagi dia di sekolah.
“Kenakalan saya dan teman-teman di SD itu, curi-curi waktu belajar untuk bermain bola, main kasti, main kelereng dan main benteng, kemudian dikejar oleh guru dengan rotan supaya masuk kelas. Pas kedapatan kita ditarik, dicubit di marahi, itu kisah yang paling indah dan berkesan dengan bapak ibu guru di masa sekolah,” kisah Irawan.
Dirinya mengungkapkan, kesan-kesan itulah yang tidak bisa dia lupakan, sehingga menjadi terasa berat untuk harus berpisah dengan bapak ibu guru di bangku Sekolah Dasar.
Beranjak pada bangku SMP itulah, masa remaja, masa dimana bapak ibu guru mengajarinya untuk lebih menghargai dan saling menghormati terhadap orang yang lebih tua. Sementara masa SMA adalah masa dimana dia beranjak dewasa, pada masa ini guru mengajarinya supaya menjadi orang yang kuat dan mau berjuang untuk mengejar cita-cita.
Di akhir kisahnya, Irawan kembali mengungkapkan, selamat Hari Guru Nasional, kepada semua bapak ibu guru di manapun mengabdi. Dirinya berharap, semoga di Hari Guru Nasional ini, akan terus menambah semangat guru untuk tidak berhenti mengabdi di manapun bertugas untuk melahirkan generasi muda yang pintar dan berhasil menjadi seorang pemimpin.[BOM-R3]