
Manokwari, TP – Program pembangunan Pantai Pasir Putih Manokwari sebagai Kawasan Wisata Terpadu yang direncanakan atas kerjasama Pemerintah Daerah (Pemda) Manokwari dan PT Asni Putra Mandiri, tidak ada perkembangan (stagnan).
Kepala Dinas Pariwisata dan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manokwari, I Gede Wiradana menyampaikan, belum ada kelanjutan terkait kerjasama tersebut.
Dijelaskannya, pihak ketiga PT Asni Putra Mandiri pada 2021 telah menyurat ke Pemda Manokwari, mempertanyakan kelanjutan program tersebut. Hanya saja, belum ada kelanjutannya, karena kebijakan Bupati Manokwari, Hermus Indou, masih menunggu penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan revisi tata ruang kota dan wilayah (RT/RW).
“Untuk program pembangunan Pasir Putih sebagai Kawasan Wisata Terpadu, belum ada informasi lebih lanjut. Terakhir, tahun lalu pihak PT Asni Putra Mandiri sudah menyurat ke Pak Bupati, tetapi Pak Bupati sampaikan sabar dulu setelah RPJMD selesai dulu dan melihat RT/RW nya selesai dulu baru komunikasi ulang,” kata Wiradana kepada Tabura Pos saat ditemui di kantornya, belum lama ini.
Lanjut Wiradana menjelaskan, program pembangunan ini tidak dihentikan, sebab nota kerjasama (MoU) antara Pemda Manokwari dan PT Asni Putra Mandiri belum dibatalkan.
Hanya saja, menurut Wiradana, belum ada kelanjutannya sampai hari ini, karena adanya berbagai pertimbangan dari Bupati Manokwari, Hermus Indou.
“Kelanjutannya belum ada informasi sampai sekarang. MoU nya juga belum dibatalkan, sehingga masih berlanjut, jadi kita menunggu saja,” jelasnya.
Wiradana menambahkan, MoU program pembangunan Pasir Putih Manokwari sebagai Kawasan Wisata Terpadu, diteken oleh mantan Bupati Manokwari, Almarhum Demas P. Mandacan pada 2019 lalu bersama PT Asni Putra Mandiri sebagai pengelola.
Di dalam MoU itu, PT Asni Putra Mandiri sebagai pihak pengelola akan berinvestasi dengan membangun Pasir Putih sebagai Kawasan Wisata Terpadu dengan modalnya sendiri.
Konsep pembangunannya pun dibuat modern, terdapat resort, home stay yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Bila pembangunan ini berjalan, maka akan digadang-gadang sebagai tempat wisata modern di Papua Barat, menyaingi Raja Ampat.
“MoU kerja selama 18 bulan saja dan biaya mereka semua, kita (Pemda Manokwari red) hanya tempatnya saja. Mungkin kalau tidak ada Covid-19 sudah jadi kapa tempat wisatanya,” ujar Wiradana.
Menurut Wiradana, dalam MoU itu tentunya akan berdampak positif bagi Pemda Manokwari maupun masyarakat setempat karena dalam perencanaan akan dilibatkan.
“Sama dengan Pabrik Semen, tentu ada pemasukan bagi pemerintah daerah. Masyarakat sekitar juga akan dilibatkan,” pungkas Wiradana. [SDR-R4]




















