Manokwari, TABURAPOS.CO – Penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang bisa menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif.
Penyandang disabilitas fisik terdiri dari tuna netra, tuna daksa, tuna rungu dan tuna wicara. Tentunya, dengan keterbatasan tersebut, sangat menyulitkan untuk beraktifitas seperti manusia normal lainnya.
Di Manokwari, penyandang disabilitas cukup banyak. Bahkan beberapa warga yang memiliki keterbatasan, khususnya tuna netra bisa ditemui di beberapa tempat karena ingin tetap berkarya ditengah keterbatasan yang dimilikinya.
Ketua organisasi kemasyarakatan tuna netra Manokwari, Septinus Manggaprouw kepada Tabura Pos mengisahkan perjuangannya bersama rekan-rekannya tuna netra untuk tetap bisa berkarya demi mencukupi kebutuhan hidupnya.
Septinus mengungkapkan, para penyandang tunanetra di Manokwari sekitar 40 hingga 50 orang dan memiliki potensi dibeberapa bidang. Diantaranya, bidang music, kerajinan berupa anyam-anyaman dan kerajinan membuat keset.
Namun sayangnya, dari potensi yang dimiliki bahkan upaya mandiri yang mereka lakukan, belum dapat menyentuh hati pemerintah. Sehingga, sebutnya belum ada dukungan dan perhatian pemerintah kepada warga penyandang tuna netra.
“Meski saya tidak bisa melihat, namun kami juga bisa mengikuti isu yang berkembang. Dimana saat ini telah dilaksanakan serah terima jabatan di dinas sosial Manokwari, namun DPR dan MRP Papua Barat memgusulkan nama penjabat Gubernur Papua Barat. kami ikuti. Kami tidak minta banyak, namun kami hanya meminta dan berharap, nama yang diusulkan adalah orang yang tepat dan memiliki perhatian kepada kami penyandang tunanetra,” ucap Manggaprouw kepada Tabura Pos, Rabu (12/4/2023).
Sekretaris Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Manokwari ini menyampaikan, untuk mendukung kemandirian dan pengembangan potensi para tuna netra, dirinya meminta agar nama Penjabat Gubernur Papua Barat yang telah diusulkan bisa melihat warga disabilitas. “Beberapa usulan yang kami organisasi kemasyarakatan disabilitas sampaikan ke provinsi belum dijawab. Jadi kami berharap, yang nantinya memimpin Papua Barat bisa memperhatikan nasib kami. Dan Pejabat di dinas sosial Manokwari yang sekarang bisa melihat kami,” pinta Manggaprouw.
Manggaprouw mengungkapkan, dirinya bersama-rekan nutranetra sebelumnya sempat mendapatkan pembinaan untuk bisa menghasilkan dengan karya. Namun, hal itu belum bisa dilaksanakan kembali, karena ketiadaan anggaran. “Disabilitas harus diberdayakan melalui program pemerintah, karena sebenarnya memiliki potensi. Kami masih memerlukan perhatian, apalagi ada yang tinggal sendiri. Kami juga ingin memberikan pengenalan huruf kepada tuna netra yang lebih muda, usia remaja,” tukasnya.
“Tahun depan adalah tahun politik, pesta demokrasi pemilihan wakil rakyat dan kepala daerah. Penyandang disabilitas juga memiliki hak suara. Jangan hanya mengambil suara kami lalu melupakan, tetapi berikankan perhatian dan dukung kami. Karena kami juga ingin tetap bisa berkarya meski tidak bisa melihat,” aku Manggaprouw. [RYA-R3]




















