Manokwari, TABURAPOS.CO – Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat menggelar lomba cipta menu kreasi pangan lokal berbasis B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman) tingkat provinsi Papua Barat Tahun 2023 di Manokwari, Rabu (5/7).
Pantauan Tabura Pos, peserta lomba cipta menu kreasi pangan lokal berbasis B2SA terdiri dari Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) perwakilan lima kabupaten di Papua Barat diantaranya, TP-PKK Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan (Mansel), Pegunungan Arfak (Pegaf), Teluk Wondama dam TP-PKK Kabupaten Fakfak.
Dari perlombahan tersebut, TP-PKK Kabupaten Manokwari meraih juara I dengan jumlah nilai 77.23 sehingga berhak menerima uang pembinaan sebesar Rp. 2.500.000.
Juara II lomba cipta menu kreasi pangan lokal disusul TP-PKK Manokwari Selatan dengan meraih total nilai 75.13 dan menerima uang pembinaan senilai Rp. 2.000.000.
Juara III diraih oleh TP PKK Kabupaten Teluk Wondama dengan jumlah nilai 73.88 dan memperoleh uang pembinaan senilai Rp, 1.500.000.
Untuk juara harapan I diraih oleh TP PKK Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf) dengan jumlah nilai 73.84 dan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 1.250.000.
Harapan II disusul kabupaten Fakfak dengan jumlah nilai 72.25 dengan memperoleh uang pembinaan senilai Rp. 1.000.000. Sementara untuk juara kategori kreasi menu aplikatif diraih oleh TP PKK Mansel dengan memperoleh uang pembinaan senilai Rp. 750.000.
Asisten III Bidang Administrasi, Setda Papua Barat, Abdul Latief Suaeri dalam sambutannya mengatakan, menu kreasi pangan lokal B2SA yang sebelumnya adalah empat sehat dan lima sempurna.

“Pedoman inilah yang selalu kita sosialisasikan sehingga kebutuhan gizi keluarga dan anak. Ini merupakan salah satu wujud kepedulian kaum ibu, anak dan keluarga, karena biasanya kebutuhan makanan keluarga melekat pada kaum ibu,” terang Suaeri saat membacakan sambutan penjabat Gubernur Papua Barat, Paulus Waterapuw pada lomba cipta menu kreasi pangan lokal kemarin.
Untuk itu, ajak Suaeri, apa yang dilakukan saat ini dapat diaplikasikan secara permanen dan dapat ditularkan pada seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, Dimensi kesadaran gizi dapat direalisasikan dalam aspek demokrasi maupun promosi sebagai salah contoh, sesuai tujuan lomba ini yakni mengangkat makanan khas daerah yang selama ini masih kalah saing dengan makanan modern.
“Perlu dikembangkan menu yang berbasis pada kearifan lokal. Dimana menu yang diciptakan menggunakan pangan lokal sehingga tercipta menu yang baru, menarik dan tidak kalah dengan makanan siap saji yang saat ini marak perdagangannya,” tandas Suaeri.
Ditempat yang sama, Kepala Bidang Konsumsi dan Keanekaragaman Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Papua Barat, Yunita I. Abaa mengatakan, Dinas Ketahanan Pangan adalah salah satu urusan wajib yang berbicara tentang pangan lokal.
“Kita di dinas ketahanan pangan berbeda dengan Dinas Pertanian, Holtikultura dan Perkebunan. Jadi mereka yang menyiapkan bahannya sedangkan kita mengelola hasilnya menjadi produk yang berkreasi tetapi tetap dalam B2SA dan layak dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Abaa kepada wartawan.
Abaa menjelaskan, pesertanya adalah dari TP PKK karena sesuai dengan bidangnya B2SA, stakeholder yang terkait adalah organisasi PKK. Sehingga diharapkan, usai lomba berakhir ibu-ibu kembali ke kabupaten masing-masing dapat mengembangkan menu-menu tersebut kepada masyarakat maupun kepada keluarga.
Selain itu, lanjut Abaa, B2Sa juga masih sekaitan dengan stunting, sehingga melalui program ini tentu juga berkaitan dengan kegiatan percepatan penanganan stuning dan kemiskinan ekstrim di Papua Barat.
“Selain itu, kita juga bicara terkait stunting dan kemiskinan ekstrem. Maka menu kreasi ini bisa menjadi bahan pangan untuk dijual dan dapat meningkatkan ekonomi keluarga tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi di keluarga itu sendiri, itulah tujuan utama kami,” tandas Abaa. [FSM-R3]




















