Manokwari, TABURAPOS.CO – Jumlah kasus demam berdarah (DBD) di Manokwari selama tahun 2023, dikatakan bertambah banyak.
Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Manokwari, Rahimi mengatakan, dalam kurun waktu bulan Januari – November 2023, sudah terdeteksi sebanyak 60-an kasus DBD.
“Kasus kita ini sebenarnya sudah sangat meningkat. tahun ini sudah 60-an. Jangan sampai di atas 60,” ujar Rahimi kepada Tabura Pos via telepon menanggapi temuan kasus di Perumahan Sowi Gunung, akhir pekan kemarin.
Rahimi menyebutkan, bahkan 2 korban DBD dari 60-an kasus yang terdeteksi tersebut meninggal dunia, terdiri dari satu anak-anak dan satu orang dewasa.
Dijelaskannya, saat menerima informasi adanya kasus pasien yang terkena DBD, meskipun juga ada mengidap penyakit yang lain, pihaknya tetap fokus pada DBD.
“Sebanyak 60-an kasus ini campur ada kategori anak-anak dan orang dewasa. Bahkan ada dua yang meninggal, satu anak-anak dan satunya orang dewasa yang punya penyakit komplikasi paru,” sebut Rahimi.
Menurutnya, semakin banyaknya kasus DBD di Manokwari disebabkan oleh beberapa faktor, seperti semakin bertambahnya penduduk di Manokwari, semakin bertumbuhnya perumahan, kurangnya menjaga kebersihan lingkungan dan cuaca.
“Selain faktor cuaca, orang-orang di Manokwari juga tambah banyak, perumahan juga banyak yang kosong yang penampungan airnya tidak pernah dikuras,” terangnya.
Kepala Seksi P2PM ini mengimbau agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Tandon atau bak yang berisikan air baik di dalam rumah maupun di luar rumah wajib dikuras setiap 7 hari sekali.
Rahimi menerangkan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan karena gigitan nyamuk, namun berbeda malaria. Nyamuk malaria berada di genangan air yang bersentuhan dengan tanah. Sedangkan, nyamuk DBD tidak atau yang berada di sebuah tandon atau tempat yang tidak bersentuhan dengan tanah.
Selain itu, ungkap Rahimi, penyebarannya pun juga berbeda. Nyamuk malaria bisa menyebarkan virus ke orang lain, karena telah lebih dulu menggigit orang yang terkena malaria. Sedangkan nyamuk DBD masih jentik pun sudah ada virusnya.
“Saya harap masyarakat bisa bersih-bersih. Jangan sampai ada genangan-genangan air di sekitar rumah. Di dalam rumah harus dikuras satu minggu sekali. Peran masyarakat sangat penting,” pungkasnya.
Ia menambahkan, tindakan lanjutan yang dilakukan pihaknya bila menerima laporan adanya temuan kasus DBD di suatu wilayah dengan langsung melakukan penyemprotan atau radius di wilayah tersebut.
“Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan Abate langsung saja ke puskesmas terdekat di wilayahnya,” tandas Rahimi. [SDR-R3]




















