Manokwari, TP – Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Provinsi Papua Barat menargetkan di tahun depan akan menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi provinsi senilai Rp. 1,500 miliar dari sektor pengelolaan limbah.
Kepala DLHP Provinsi Papua Barat, Raymond Yap mengatakan, tahun depan pihaknya dapat memberikan PAD dari sektor pengelolaan limbah B3 bagi pemprov Papua Barat senilai Rp. 1,500 miliar.
Dikatakan Yap, kontribusi PAD dari sektor pengelolaan limbah ini baru pertama kali terjadi di Tanah Papua. Hal ini, tergantung dari pengelolaan limbah yang masuk ke incinerator milik Pemprov Papua Barat.
“Saat ini memang masih standar, tapi kalau kedepan ada sejumlah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) maupun rumah sakit swasta yang mengatarkan limbahnya incinerator, maka pendapatannya juga akan meningkat,” kata Yap kepada wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat, belum lama ini.
Lebih lanjut, kata Yap, sejuah ini rumah sakit yang sudah bekerjasama diantaranya, RSUP Papua Barat, Rumah Sakit Dimara TNI AD, Rumah Sakit Polda Papua Barat, RSUD Manokwari dan RSUD Teluk Bintuni.
Dijelaskan Yap, hasil akhir yang pengelolaan limbah B3 yang dibakar di incinerator dalam bentuk debu dan selama ini dikirimkan ke Jawa Barat.
Sebab, di sana sudah ada lokasi yang disiapkan untuk menampung limbah dari seluruh Indonesia. Memang, ada areal disana yang memiliki jenis tanah liat yang daya resapannya lambat.
Nanti, kalau areal itu sudah penuh dengan limbah, maka akan ditutup, barulah dilakukan penghijauan di daerah tersebut.
“Jadi kerjasama kita dengan PT Wastec Indonesia, tidak hanya pada pengelolaan limbah B3 saja. Tetapi sampai pada pengiriman hasil akhir pembakaran limbah B3 ke pulau Jawa,” ujarnya.
Disinggung terkait jika kedepannya terkait kerjasama rumah sakit di Tanah Papua apakah arealnya dapat menampung pengiriman limbah, terang Yap, pihaknya telah menyusun jadwal pengiriman limbah, sehingga limbahnya tidak menumpung di dalam areal incinerator.
“Ada gudang kecil yang digunakan untuk menyimpan limbah sementara. Jadi dimuat dan ditampung di gudang itu, ketika sudah bisa di drop barulah diminta untuk limbah berikutnya dikirimkan lagi. Jadi tidak ada limbah yang menumpung di halaman bisa saja mencemari lingkungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata dia, pihaknya telah melakukan promosi ke wilayah lain di Tanah Papua. Komunikasi yang saat ini intens bersama dengan RSUD Biak Numfor.
Hanya saja, kata dia, pengiriman Limbah B3 ini memang harus dikemas dengan baik, sebab dikirimkan melalui laut maupun jalur darat.
“Karena harus ada pemberlakuan khusus dalam pengelolaan limbah B3 ini. Kami berharap, semakin banyak limbah yang masuk, maka semakin banyak pendapatannya juga,” tandas Yap. [FSM-R5]




















