Sorong, TP – Romeesa Farzana Azkadina (9), siswa SD IT Al-Izzah Kota Sorong mengharumkan nama Provinsi Papua Barat Daya lewat ajang Lomba Dongeng Karya Cipta Baru Jenjang SD Tingkat Nasional pada 6 Desember di Jakarta.
Mengangkat judul ‘Budaya Egek Hutan Suku Moi di Kampung Malaumkarta’, putri sulung dari pasangan Ibunda Betsy Cynthia Yolandika dan Ayahanda Sugeng Dwiyanto meraih juara 2 tingkat nasional di ajang tersebut.
Kompetisi yang diselenggarakan melalui kolaborasi KSBN, Kemendikdasmen, dan Kementerian Kebudayaan itu bertujuan untuk memperkaya khazanah dongeng nusantara yang relevan dengan tantangan zaman. Kompetisi ini juga menargetkan penguatan literasi dan karakter (religius, nadionalis, mandiri, gotong royong, integritas) bagi pesertanya.
Bukan hanya itu, mendorong kreativitas dan kemampuan bercerita anak melalui keterlibatan ekosistem pendidikan, komunitas dan masyarakat luas dalam pelestarian tradisi lisan.
Sugeng Dwiyanto mengaku, pihaknya sebagai orang tua tak menyangka putrinya bisa meraih juara nasional dan mengharumkan nama Provinsi Papua Barat Daya lewat dongengnya.
“Alhamdulillah, Masya Allah, selaku orang tua dari Ananda Romeesa kami pasti sangat bangga dan senang. Saya bersyukur bertepatan dengan HUT ke-3 tahun Papua Barat Daya anak kami bisa mengharumkan nama daerah di tingkat nasional,,” ungkap Sugeng kepada Tabura Pos, Senin (8/12/2025).
Dikatakan Sugeng, dari 38 perwakilan tiap provinsi se-Inonesia, hanya 6 peserta terbaik yang tampil di hadapan Menteri Pendidikan dan Menteri Kebudayaan.
“Menjadi perwakilan tingkat provinsi, anak kami berhasil meraih juara 2 nasional. Kebanggaan kami karena lewat dongeng yang dibawakan, akhirnya salah satu budaya Papua, yakni Egek Suku Moi bisa dikenal masyarakat luas,” kata Sugeng.
Menurutnya, juara 2 yang diraih anaknya bukan hanya sebuah keberuntungan semata. Pasalnya, judul dogeng yang mengangkat Budaya Egek Suku Moi ini sangat relevan dengan situasi terkini.
“Saat ini sedang ramai orang membahas musibah di daerah Sumatera yang diduga disebabkan oleh kerusakan hutan. Kejadian ini relevan dengan dongeng yang dibawakan oleh anak kami. Di mana Egek sendiri adalah salah satu cara masyarakat adat menjaga hutan secara tradisional. Dari situlah kemungkinan para dewan juri tertarik pada topik dongeng yang dibawakan tersebut.Sementara itu, Romeesa juga mengaku tidak pernah berespektasi untuk menjuarai kompetisi tersebut. Sebab, di jenjang nasional seluruh peserta mempersembahkan penampilan yang tak kalah bagusnya.
“Sebenarnya tidak menyangka jadi juara 2 tingkat nasional, apalagi penampilan peserta sangat bagus. Jadi saya sangat happy bisa menang,” kata Romeesa.Ia mengatakan, judul dongeng tersebut dipilih karena Egek merupakan budaya Suku Moi untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup secara tradisional. Di mana masyarakat tidak diizinkan mengambil hasil alam tertentu dalam jangka waktu tertentu.
“Bagi masyarakat Papua, hutan adalah ibu kandung. Sehingga lewat budaya egek tersebut, masyarakat adat memberikan waktu untuk alam beregenerasi,” tuturnya.Sugeng berharap, kompetisi serupa bisa lebih sering dilaksanakan dengan tujuan memperkenalkan budaya Papua lewat dunia pendidikan. [CR24-R3]




















