Sorong, TP – Solidaritas aktivis dan Supir Truk se Kota dan Kabupaten Sorong akan menggelar aksi damai Senin pada ( 26/1/ 2026). Sesuai rencana aksi dimulai Pukul 08.00 WIT. Aksi akan dipusatkan di tiga titik yakni, Kantor Depot PT Pertamina Sorong , Kantor DPR Kota Sorong, dan Kantor Gubernur Papua Barat Daya, dengan titik kumpul awal di Lampu Merah KM 8 Kota Sorong.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap dugaan maraknya mafia BBM jenis Solar bersubsidi yang menyebabkan kelangkaan di sejumlah SPBU. Perkiraan sekitar 500 massa akan terlibat dalam aksi yang mengusung tema “26 Mogok Truk dan Mogok Pembangunan” dan dijanjikan berlangsung secara damai serta tertib.
Massa mengajukan sejumlah tuntutan kepada PT Pertamina, antara lain memperjelas distribusi BBM bersubsidi, memastikan penyaluran tepat sasaran, menindak tegas oknum pegawai yang terlibat dalam mafia BBM, serta memperketat pengawasan sistem barcode pembelian BBM.
Rianto, Penanggung Jawab Aksi Sopir Truk, mengatakan bahwa aksi ini dilatarbelakangi kondisi yang semakin memprihatinkan. Para pengemudi truk mengalami kesulitan luar biasa mendapatkan bahan bakar, dengan antrean panjang hampir setiap hari bahkan harus bolak-balik menunggu lama. Kondisi ini mengganggu aktivitas masyarakat yang menggantungkan hidup dari pekerjaan di jalan.
“Situasi di lapangan semakin tidak terkendali karena para pengemudi terpaksa saling berkoordinasi untuk masuk antrean lebih cepat. Kami sepakat untuk menyampaikan aspirasi agar permasalahan ini diperhatikan dan dicari solusi,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, sebagian peserta (sekitar 10–20 sopir truk) akan mengawal mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi ke Gedung DPR Kota Sorong. Sementara sebagian besar lainnya akan bergerak ke Depo Pertamina untuk menyuarakan keluhan langsung.
Aksi ini juga didasari kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat, terutama banyak ibu-ibu yang kesulitan mendapatkan minyak tanah dan harus mendorong jeriken dari tempat yang jauh. “Kami merasa tergugah untuk membantu dan memperjuangkan kepentingan masyarakat luas,” tambah Rianto.

Harapan para peserta, melalui aksi ini pihak terkait dapat memberikan solusi nyata, kebijakan yang adil, serta kemudahan dalam pendistribusian bahan bakar dan minyak tanah sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Sebelumnya, pada Sabtu (24/01) sekitar pukul 10.00 WIT terjadi razia di sejumlah SPBU di Kota Sorong. Belum diketahui pihak mana yang melakukan razia tersebut, namun dampaknya langsung terasa: antrian tidak lagi mengular seperti biasa, yang dianggap sebagai bukti adanya mafia BBM. [CR30-R2]





















