Wamena, TP – Dalam rangka mempersiapkan Guru Pendamping yang kompeten dan berdaya saing guna pelaksanaan Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Panitia pelaksanaan SSH Universitas Papua (Unipa) menggelar Training of Trainers (ToT) yang dipusatkan di Sekolah Dasar (SD) St. Michael Hepuba, Wamena, Rabu-Kamis (21-22/1/2026).
Pelatihan tersebut resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya, Kaleb Aso, Panitia SSH Unipa menghadirkan empat orang dosen yang berkompeten dibidang literasi, baik baca, tulis dan numerasi (hitung).
Dalam sambutannya, Kaleb Aso menekankan, pentingnya pendekatan pembelajaran berbasis praktik bagi anak-anak Papua.
Menurut Kaleb Aso, karakter anak Papua yang aktif, enerjik, dan cekatan menuntut metode pembelajaran yang lebih menekankan praktik dibandingkan teori.
“Anak-anak kita perlu diberikan 70 persen praktik dan 30 persen teori. Mereka tidak boleh hanya duduk di dalam ruangan, tetapi harus mendengar, melihat, dan melakukan secara langsung,” ujar Kaleb Aso dalam pers release yang di terima Tabura Pos via WhatsApp, Sabtu (24/1/2026).
Oleh karena itu, dirinya berharap, pendekatan pembelajaran dalam Program SSH dapat memberi ruang luas bagi siswa untuk mempraktikkan materi yang dipelajari.
Di sela-sela agenda kerjanya yang padat, Kaleb Aso menyempatkan diri hadir untuk memberikan dukungan moril terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Ada beberapa agenda lain yang harus saya hadiri, tetapi saya merasa penting untuk datang pada pembukaan ToT ini,” tandas Kaleb Aso.
Kegiatan ToT ini diharapkan dapat memperkuat pengetahuan pedagogis para guru pendamping yang direkrut dari berbagai latar belakang keilmuan.
Dalam pelatihan tersebut, guru pendamping dibekali kesempatan praktik langsung terkait pendekatan pembelajaran bagi siswa yang mengalami kendala dalam literasi membaca, menulis, serta peningkatan kemampuan berhitung.
Dalam pers release yang sama, Ketua Pengelola Program SSH Jayawijaya, Hengki Mofu menjelaskan, guru pendamping memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan program.
Karena, lanjut Mofu, para guru pendamping akan mendampingi siswa selama seharian penuh di sekolah, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIT.
“Guru pendamping adalah penentu keberhasilan program ini. Karena itu, mereka harus dipersiapkan dengan baik agar memiliki kemampuan pedagogis yang mumpuni dan mampu membawa perubahan, baik dari sisi kompetensi keilmuan maupun karakter siswa,” ujarnya.
Melalui pelaksanaan ToT ini, Program Sekolah Sepanjang Hari Kabupaten Jayawijaya diharapkan mampu menghadirkan layanan pendidikan yang lebih kontekstual, humanis, dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan anak-anak di Papua, pungkas Mofu. [FSM-R2]




















