Manokwari, TP – Sebanyak 1.360 penari tamborin dari sejumlah sekolah dan denominasi gereja ikut memeriahkan HUT Pekabaran Injil (PI) ke-171 dalam pawai tamborin kolosal dan Kebhaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi, Kabupaten Manokwari, Rabu (4/2/2026).
Pawai ini dimulai dari Jl. Percetakan Negara, Sanggeng dan berakhir di RTP Borarsi. Warga tampak antusias menyaksikan penampilan para penari yang menggabungkan harmoni gerak dan musik rohani.
Ketua Panitia HUT PI ke-171, Pdt. Markus Rudi Molle mengapresiasi seluruh pihak, khususnya para kepala sekolah yang mengizinkan anak didiknya terlibat dalam pawai dan tarian tamborin serta mengikuti ibadah KKR.
Menurut Molle, peringatan 171 tahun PI bukan sekedar rutinitas tahunan, tetapi momentum refleksi iman dan rangkaian kegiatan ini bertujuan menyongsong HUT PI, dengan penuh syukur.
“Seratus tujuh puluh satu tahun kita memperingati hari Pekabaran Injil bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai refleksi sejauhmana peran Injil telah mengubah kehidupan umat Tuhan di tanah Papua,” kata Molle.
Ia berharap pawai tamborin kolosal ini bisa menumbuhkan kecintaan generasi muda gereja terhadap firman Tuhan dan puji-pujian.
Bupati Manokwari, Hermus Indou mengatakan, keterlibatan sekolah dan gereja dalam pawai tamborin kolosal sebagai kekuatan besar bagi generasi muda Papua Barat.
Dirinya menilai, Injil di tanah Papua adalah berkat bagi semua, terutama adik-adik sebagai generasi muda akan membawa dampak bagi Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Manokwari.
Ditambahkan Indou, pemerintah daerah tidak ingin melewatkan kesempatan ini karena kegiatan KKR dinilai sebagai momentum rohani yang membawa berkat bagi banyak pihak.
“Ini berkat bagi kita. Jangan pernah melewatkan kesempatan emas ini. KKR ini berkat bagi Manokwari, berkat bagi generasi muda, berkat bagi Pemprov Papua Barat, dan juga bagi Pemkab Manokwari. Kita pastikan berkat ini menjadi bagian dari kehidupan kita,” kata Bupati.
Sementara Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan mengatakan, pawai dan tari tamborin serta KKR bukan sekedar pertunjukkan seni melainkan wujud pujian dan syukur atas transformasi besar di tanah Papua.
Dirinya menilai setiap langkah kaki dan denting tamborin adalah simbol pujian dan ucapan syukur atas perubahan besar yang membawa terang iman, pendidikan, kesehatan, dan peradaban untuk semua.
“Peringatan HUT PI ke-171 diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk terus menjaga hidup rukun dan damai di tengah keberagaman suku, agama serta adat budaya,” tandas Mandacan.
Ditegaskannya, seluruh elemen masyarakat harus mempunyai komitmen bersama untuk hidup rukun dan damai antarsesama tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, agama, maupun budaya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh umat menjadikan Injil sebagai dasar hidup dengan menerapkan nilai kasih, kejujuran, dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di atas tanah Papua.
“Perkuat persatuan. Pawai ini diikuti berbagai denominasi gereja. Biarlah keberagaman menjadi kekuatan untuk menjaga Papua Barat sebagai tanah yang aman, damai, dan penuh toleransi,” katanya. [SDR-R1]




















