• Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Tabura Pos - Akurat dan Cerdas
  • Home
  • PAPUA BARAT
  • MANOKWARI
  • DAERAH
    • MANSEL
    • PEGAF
    • BINTUNI
    • TELUK WONDAMA
  • POLHUKRIM
    • HUKUM & KRIMINAL
    • PARLEMENTARIA
  • DIKKES
    • BUDAYA & PARIWISATA
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
  • EKBIS
  • KABAR PAPUA
  • LINTAS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • PAPUA BARAT
  • MANOKWARI
  • DAERAH
    • MANSEL
    • PEGAF
    • BINTUNI
    • TELUK WONDAMA
  • POLHUKRIM
    • HUKUM & KRIMINAL
    • PARLEMENTARIA
  • DIKKES
    • BUDAYA & PARIWISATA
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
  • EKBIS
  • KABAR PAPUA
  • LINTAS PAPUA
No Result
View All Result
Tabura Pos - Akurat dan Cerdas
No Result
View All Result
Home PAPUA BARAT

​BP3OKP Kritisi Penghargaan UHC Papua Barat: Data Administratif Tak Sebanding Realitas Lapangan

AdminTabura by AdminTabura
26/02/2026
in PAPUA BARAT
0
​BP3OKP Kritisi Penghargaan UHC Papua Barat: Data Administratif Tak Sebanding Realitas Lapangan

Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Papua Barat Sehat, BP3OKP Papua Barat, Muga Romanus.

0
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Manokwari, TP – Di balik pretasi gemilang meraih Universal Health Coverage (UHC) Awards 2026, potret buram pelayanan kesehatan masih membayangi wilayah pelosok Papua Barat.

Badan Percepatan Pembangunan Otsus Papua (BP3OKP) mengingatkan pemerintah daerah agar tidak terlena dengan angka administratif, mengingat masyarakat di distrik terpencil masih kesulitan menemui dokter dan mendapatkan obat-obatan.

Hal ini ditegaskan, Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Papua Barat Sehat, BP3OKP Papua Barat, Muga Romanus. Ia menilai, pencapaian angka tersebut menciptakan kontras yang tajam antara data administratif di atas kertas dengan realitas pelayanan kesehatan yang dirasakan masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) di wilayah pedalaman dan pesisir.

Menurut Muga, masyarakat seringkali salah menafsirkan makna UHC. Ia menyatakan tingginya persentase UHC sejauh ini lebih mencerminkan kepatuhan daerah dalam membayar premi asuransi kesehatan (BPJS), namun belum menjadi jaminan kualitas pelayanan di lapangan.

“Kita puji-puji soal penghargaan 98 persen itu, tapi maaf pelayanan kesehatan di kantong-kantong pemukiman OAP di gunung dan distrik-distrik sangat memprihatinkan. Menurut saya, kita tidak fair mendapat penghargaan itu jika tidak dibarengi dengan peningkatan pelayanan nyata,” ujar Muga kepada Wartawan di Gedung Keuangan Negara (GKN) Arfai Perkantoran, Kamis (26/2/2026).

BP3OKP, jelas dia, memaparkan sejumlah temuan lapangan yang berbanding terbalik dengan predikat penghargaan tersebut.

Dimana, kata dia, Di wilayah Babo hingga area sekitar perusahaan Genting Oil, masyarakat masih kesulitan mengakses layanan kesehatan karena ketiadaan tenaga medis dan stok obat-obatan yang kosong.

Kondisi di daerah pegunungan lebih ekstrem. Rumah Sakit di Pegunungan Arfak dilaporkan tidak memiliki dokter spesialis, bahkan hanya mengandalkan dua orang dokter umum untuk melayani satu kabupaten. Pelayanan kesehatan yang memadai hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sementara daerah pesisir dan pedalaman terabaikan.

Muga meminta pemerintah daerah tidak terlena dengan penghargaan bersifat administratif. Ia mendesak agar anggaran dan kebijakan kesehatan benar-benar menyentuh akar rumput, sehingga kartu jaminan kesehatan yang dipegang masyarakat bisa digunakan di fasilitas kesehatan yang berfungsi dengan baik.

“Jangan sampai kita hanya hebat di data premi, tapi orang di distrik-distrik harus berjuang mati-matian hanya untuk bertemu dokter atau mendapatkan obat. Penghargaan itu harusnya dirasakan oleh orang-orang di pesisir dan gunung, bukan hanya seremonial di kota,” tandas Muga. [FSM-R2]

Previous Post

Bernad Mandacan Komitmen Dukung Keberlanjutan Kakao Mansel

Next Post

Wamafma Apresiasi Respon Cepat Kemenkes Terkait Kekurangan Nakes di Papua Barat

Next Post
Wamafma Apresiasi Respon Cepat Kemenkes Terkait Kekurangan Nakes di Papua Barat

Wamafma Apresiasi Respon Cepat Kemenkes Terkait Kekurangan Nakes di Papua Barat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertorial

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

Advertorial

Browse by Category

  • ARTIKEL
  • BINTUNI
  • Blog
  • BUDAYA & PARIWISATA
  • DAERAH
  • DIKKES
  • EKBIS
  • HUKUM & KRIMINAL
  • INFO GRAFIK
  • KABAR PAPUA
  • KAIMANA
  • KESEHATAN
  • LINTAS NUSANTARA
  • LINTAS PAPUA
  • MANOKWARI
  • MANSEL
  • NASIONAL
  • News
  • PAPUA BARAT
  • PAPUA BARAT DAYA
  • PARLEMENTARIA
  • PEGAF
  • PENDIDIKAN
  • POLHUKRIM
  • Post
  • TELUK WONDAMA
  • Uncategorized
  • VIDEO

© 2022 TABURAPOS - Akurat dan Cerdas.

No Result
View All Result
  • Home
  • PAPUA BARAT
  • MANOKWARI
  • DAERAH
    • MANSEL
    • PEGAF
    • BINTUNI
    • TELUK WONDAMA
  • POLHUKRIM
    • HUKUM & KRIMINAL
    • PARLEMENTARIA
  • DIKKES
    • BUDAYA & PARIWISATA
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
  • EKBIS
  • KABAR PAPUA
  • LINTAS PAPUA

© 2022 TABURAPOS - Akurat dan Cerdas.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!