Sorong, TP – Kemunculan pengamen di sejumlah titik Kota Sorong, Papua Barat Daya, belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya platform Facebook yang banyak digunakan masyarakat setempat.
Berbagai pendapat muncul dari warganet dalam menanggapi fenomena tersebut. Sebagian pengguna menyampaikan dukungan, menyatakan aktivitas mengamen sebagai salah satu cara masyarakat mencari nafkah secara mandiri.
Menurut mereka, profesi pengamen dinilai lebih baik dibandingkan melakukan tindakan kriminal atau aktivitas yang meresahkan masyarakat. Beberapa komentar bahkan menyebutkan bahwa mengamen lebih positif dibanding perilaku seperti begal, mabuk-mabukan, atau praktik pemalangan jalan yang kerap dikeluhkan.
Namun, tidak sedikit pula yang menyampaikan pandangan berbeda. Sebagian pihak mencibir profesi pengamen dan menilai keberadaannya tidak sesuai dengan kondisi sosial Kota Sorong. Ada pula yang mengaitkan fenomena ini dengan potensi dampak sosial hingga politik, terutama terkait pertumbuhan populasi pendatang di wilayah Papua.
Perdebatan di ruang maya menunjukkan bahwa kemunculan pengamen memunculkan beragam perspektif di tengah masyarakat. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah daerah terkait fenomena tersebut, termasuk kemungkinan penataan atau pengaturan terhadap aktivitas mengamen di ruang publik.
Fenomena ini juga menjadi cerminan dinamika sosial masyarakat perkotaan yang terus berkembang, di mana berbagai aktivitas ekonomi informal mulai muncul dan memicu diskusi publik. [CR30-R2]




















