Manokwari, TP — Direktur Lalu Lintas Polda Papua Barat, Kombes Pol Arief Bahtiar, mendorong program transportasi sekolah yang terencana dan berkelanjutan, serta kerja sama dengan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan.
Selain itu, Ditlantas juga berencana mengintegrasikan pendidikan lalu lintas ke dalam kurikulum sekolah, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA.
“Kami akan mendorong kerja sama dengan pemerintah kabupaten agar materi keselamatan berlalu lintas dapat dimasukkan ke dalam mata pelajaran,” ujarnya kepada para wartawan di kantornya, Rabu (8/4/2026).
Ia mengungkapkan, pelajar di bawah umur yang mengendarai kendaraan bermotor masih menjadi persoalan serius di Papua Barat.
“Sekitar 75 persen pelanggaran lalu lintas di wilayah Papua Barat dilakukan oleh pengendara usia pelajar,” sebutnya.
Arief menilai, keterbatasan transportasi umum mendorong kondisi tersebut terjadi. Banyak pelajar terpaksa membawa kendaraan sendiri karena tidak tersedianya angkutan umum yang layak untuk menunjang aktivitas ke sekolah.
“Di sisi lain, orang tua yang bekerja juga tidak selalu dapat mengantar anak-anak mereka. Ini menjadi alasan klasik. Anak-anak mau sekolah, tapi tidak ada transportasi,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan ini, pihaknya berharap pemerintah daerah agar menyusun program transportasi sekolah yang terencana dan berkelanjutan.
Ia mengaku, telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi guna menyampaikan hal tersebut kepada gubernur, kiranya ada grand strategi, khususnya untuk sekolah-sekolah yang memang membutuhkan angkutan bagi siswa.
Kombes Pol Arief menambahkan, ada dilema yang dihadapi aparat di lapangan, karean penegakan hukum melalui razia dan penindakan seringkali mendapat keluhan dari masyarakat karena keterbatasan transportasi.
“Tapi kalau kita tindak, masyarakat mengeluh, kalau kita longgarkan, angka kecelakaan bisa naik. Ini dilema, tapi tetap harus kita sikapi secara bijak,” pungkasnya. [SDR-R2]




















