Dugaan Kekerasan Berawal Siswa Kelas X Tidak Menghormati Senior
Manokwari, TP – Dugaan tindakan kekerasan yang terjadi di SMA Negeri Taruna Kasuari Nusantara pada Rabu (22/4/2026) telah masuk ranah hukum. Orangtua siswa korban telah melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Manokwari, dan saat ini proses penyelidikan sedang berjalan.
Kasat Reskrim Polresta Manokwari, AKP Agung G. Samosir, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah siswa yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. Hingga saat ini, sudah ada 12 orang yang dimintai keterangan dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
“Sudah 12 orang yang kita mintai keterangan. Jumlahnya masih bisa bertambah, karena kita akan terus panggil pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan kasus ini,” jelas Samosir saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026).
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari para saksi dan tersangka, penyebab utama terjadinya perselisihan dan tindakan kekerasan tersebut diduga karena masalah sikap dan sopan santun antar siswa.
“Diduga penyebab awal permasalahan karena ada oknum siswa kelas X yang tidak menghormati siswa kelas XI. Hal ini yang kemudian memicu terjadinya insiden tersebut,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, menyatakan dukungannya terhadap langkah hukum yang ditempuh oleh orangtua korban. Ia mempersilahkan keluarga korban untuk melakukan visum et repertum dan melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian.
“Saya persilahkan orangtua yang anaknya mengalami kekerasan untuk memprosesnya secara hukum. Saya tidak bisa menuduh siapa-siapa, namun melalui proses hukum ini diharapkan akan terungkap fakta sebenarnya dan siapa yang bersalah. Hal ini penting sebagai pembelajaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya saat menemui orangtua siswa di sekolah, Kamis (23/4/2026).
Menyikapi kasus yang menyita perhatian publik ini, Dowansiba menegaskan bahwa pihaknya bersama seluruh pemangku kepentingan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan sistem pembelajaran di sekolah yang dipimpin oleh Yusuf Ragainaga tersebut. [SDR-R2]




















