Isu Pungutan Ditepis, Hanya Kesalahpahaman Informasi
Manokwari, TP – Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah (UAS) di SMP YPPGI Silo Pasirido pada hari ketiga, Rabu (6/5/2026) berjalan dengan lancar, tertib, dan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Kepala Sekolah Dra. Feronika Kainama menjelaskan, pelaksanaan ujian ini diawasi dan dipantau langsung oleh pengawas utusan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari untuk menjaga objektivitas dan kredibilitas penyelenggaraan.
“UAS kita mulai sejak Senin, 4 Mei dan akan berakhir pada Jumat, 8 Mei 2026, sehingga berlangsung selama lima hari kerja,” ujarnya saat ditemui wartawan.
Dari total 40 siswa kelas IX yang terdaftar, saat ini hanya 38 orang yang aktif mengikuti ujian. Dua siswa lainnya tidak mengikuti karena sudah mengundurkan diri atau keluar dari sekolah sebelum jadwal ujian dimulai.
Mata pelajaran yang diujikan meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama, IPA, IPS, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK). Sementara untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, materi ujian akan ditetapkan langsung oleh pihak sekolah.
Secara kurikulum, peserta ujian tahun ini masih menggunakan Kurikulum 2013 dan menjadi angkatan terakhir yang menerapkan sistem tersebut. Mulai tahun 2027 mendatang, seluruh jenjang akan secara bertahap beralih menggunakan Kurikulum Merdeka.
Terkait sumber daya manusia, Feronika menyebutkan saat ini terdapat 3 orang guru berstatus PNS, 6 orang guru honorer, dan 1 orang tenaga tata usaha. Ia mengakui jumlah tenaga pendidik masih sangat kurang dan berharap perhatian dari Dinas Pendidikan maupun pihak yayasan untuk segera menambah kekurangan tersebut.
IMenanggapi isu yang sempat beredar di masyarakat mengenai adanya pungutan uang komite bagi siswa yang akan mengikuti ujian, Kepala Sekolah dengan tegas membantah informasi tersebut.
“Berita itu tidak benar dan muncul hanya karena melihat dari satu sisi saja, tanpa melakukan konfirmasi langsung ke pihak sekolah maupun yayasan. Akibatnya informasi menjadi simpang siur dan sempat viral, bahkan menarik perhatian Dinas Pendidikan dan Ombudsman yang datang mengecek langsung ke sekolah kemarin,” jelasnya.
Feronika menjelaskan kronologi kejadian sebenarnya. Pada hari pertama ujian, Senin pagi, sejumlah siswa datang terlambat dan belum mendapatkan nomor ujian. Hal ini terjadi karena pada hari Sabtu sebelumnya mereka tidak masuk sekolah, sehingga ketinggalan informasi terkait jadwal dan persiapan ujian.
“Karena bingung, siswa-siswa tersebut pulang dan menyampaikan kepada orang tuanya seolah-olah diminta membayar uang komite dulu baru bisa ikut ujian. Akibatnya banyak orang tua yang datang marah-marah ke sekolah. Padahal itu murni kesalahpahaman informasi saja,” ungkapnya kesal.
Pihak sekolah sudah melakukan klarifikasi lengkap dan menyerahkan seluruh data pendukung kepada Ombudsman serta Dinas Pendidikan, sehingga isu tersebut kini sudah jelas dan tidak berlanjut menjadi masalah.
“Kami harap ke depannya jika ada informasi atau keluhan, disampaikan langsung ke pihak yang berwenang agar tidak menimbulkan fitnah yang merugikan citra sekolah,” pungkasnya. [CR18-R2]




















