Sorong, TP – Manajemen PT Bangun Malamoi Indah (BMI) selaku pihak pelaksana pengelolaan sampah di Kota Sorong akhirnya angkat bicara merespons sorotan tajam masyarakat terkait kondisi kebersihan kota yang dinilai masih jauh dari harapan.
Direktur PT BMI , Jhon Manibela, akhirnya bersedia memberikan keterangan secara eksklusif kepada awak media Tabura Pos pada Rabu (13/5) malam.
Dalam penjelasannya, Jhon secara terbuka mengakui bahwa kinerja yang dilakukan hingga saat ini belum berjalan secara maksimal dan masih banyak kekurangan di berbagai sisi. Ia pun memaparkan sejumlah kendala nyata yang dihadapi timnya saat beroperasi di lapangan.
Menurut Jhon, faktor manusia atau kesadaran masyarakat menjadi salah satu persoalan utama yang paling berpengaruh. Masih banyak warga yang belum tertib membuang limbah pada wadah yang disediakan maupun tidak mengikuti jadwal pengangkutan yang telah ditetapkan, sehingga sampah sering kali berserakan dan menumpuk di titik‑titik tertentu sebelum sempat diangkut.
“Kesadaran warga masih harus terus kita tingkatkan bersama. Banyak keluhan muncul karena tumpukan sampah, padahal hal itu sering kali terjadi karena sampah dibuang sembarangan atau di luar jam pengangkutan. Ini butuh kerja sama semua pihak agar lingkungan tetap bersih dan nyaman,” jelasnya.
Selain perilaku masyarakat, kendala teknis juga menjadi penghambat besar. Salah satunya adalah belum tersedianya alat penimbang yang memadai, sehingga pihak pengelola belum bisa memastikan secara akurat berapa tonase produksi sampah harian yang dihasilkan oleh Kota Sorong. Data yang pasti ini sebenarnya sangat dibutuhkan sebagai dasar penyusunan kebutuhan armada, tenaga kerja, dan anggaran yang tepat sasaran.
“Sampai hari ini jumlah pastinya belum bisa kami sampaikan karena belum ada alat ukur yang terpasang. Ke depannya kami sudah berkoordinasi, pemerintah daerah berencana mengadakan alat timbang tersebut agar data yang kita miliki lebih akurat,” ungkapnya.
Menyusul sorotan mengenai nasib petugas kebersihan yang dikabarkan bekerja tanpa perlindungan diri yang layak, Jhon memastikan bahwa perhatian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja tetap menjadi prioritas. Ia menjelaskan bahwa perlengkapan dasar seperti sarung tangan dan masker sudah mulai disiapkan dan dibagikan, serta pemenuhan perlengkapan lain akan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan ketersediaan anggaran.
Tantangan lain yang tidak kalah berat adalah kondisi geografis dan demografi wilayah kerja. Luasnya cakupan wilayah kota serta jumlah penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya menuntut ketersediaan jumlah armada kendaraan dan tenaga kerja yang sebanding. Namun, pemenuhan kebutuhan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi sehingga ada titik lokasi yang sulit dijangkau atau penanganannya sedikit tertunda.
“Wilayah Kota Sorong cukup luas dengan jumlah penduduk yang besar dan terus bertambah. Tentu ada kesulitan teknis di lapangan jika jumlah sarana dan petugas belum sepenuhnya sebanding dengan beban kerja yang ada,” katanya.
Guna memperbaiki kualitas layanan ke depan, PT BMI telah menyusun rencana penambahan jumlah peralatan operasional agar pekerjaan di lapangan bisa berjalan lebih ringan, cepat dan efektif.
Di akhir keterangannya, Jhon kembali meminta dukungan seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta menjadi pengawas. Warga diminta aktif menyampaikan keluhan, laporan atau informasi mengenai tumpukan sampah yang terlewat penanganannya melalui akun media sosial resmi perusahaan seperti Facebook, YouTube, maupun Twitter agar dapat segera ditindaklanjuti.
“Silakan sampaikan laporan lewat saluran resmi kami. Semakin cepat kami tahu, semakin cepat pula kami turun menanganinya. Mari kita jaga kebersihan kota ini bersama‑sama,” tutupnya. [CR30-R2]




















