Manokwari, TP – Di depan Kampus Universitas Papua, Amban, Manokwari..Sejumlah Mama-mama Papua memanfaatkan momen perhelatan Pesparawi Nasional XIV tahun 2026 untuk menjajakan aneka kerajinan khas Papua.
Menempati lapak sederhana dari terpal, mereka memajang tas Noken, Kalung, Topi, Gelang, dan perhiasan dari Manik-manik sebagai Oleh-oleh bagi para tamu dan peserta yang datang dari berbagai daerah.
Salah satu penjual, Lin Mote Bidau, menjelaskan bahwa Noken yang ditawarkan memiliki beragam ukuran dan model, dengan bahan dasar yang bervariasi. Ada yang dibuat dari serat kulit kayu pohon nawa, yang diambil dari hutan, dijemur berhari-hari, lalu diolah dan dirajut secara manual.
“Selain kulit kayu, kami juga membuatNnoken dari akar anggrek hutan. Biasanya para bapak yang mencarinya di hutan, lalu kami rajut menjadi tas atau topi. Ada juga yang menggunakan benang rajut dengan hiasan tulisan dan gambar khas Papua,” ujarnya saat ditemui Rabu (24/6/2026).
Lin menyatakan seluruh proses pembuatan dikerjakan secara tradisional tanpa bantuan mesin, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama. Para penjual ini tidak hanya berasal dari Manokwari, tetapi juga dari Nabire yang ikut memasarkan hasil kerajinannya.
“Kami datang ke sini karena banyak orang berdatangan mengikuti Pesparawi. Selain memperkenalkan ciri khas Papua, kami juga berharap dapat mengais rezeki untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Harga barang dagangan bervariasi, disesuaikan dengan ukuran, jenis bahan, dan tingkat kerumitan pembuatannya. Lin berharap ajang Pesparawi berjalan lancar hingga selesai, serta meminta perhatian pemerintah daerah agar memberikan dukungan berupa bantuan modal usaha bagi para perajin dan pedagang Noken di Manokwari.[CR18-R2]




















