Manokwari, TP – Penguatan sistem mitigasi bencana dan ketahanan (resilience) sektor pariwisata di Provinsi Papua Barat menjadi perhatian mendesak, karena menjadi salah satu syarat utama yang harus dipenuhi pada sektor pariwisata.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Papua Barat, Jafar Werfete menanggapi peristiwa hilangnya wisatawan di kawasan air terjun Memti, Kampung Sisrang, Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), pekan lalu.
Menurutnya, sektor pariwisata harus memiliki mitigasi bencana dan ketahanan saat mengatasi berbagai macam bencana yang terjadi, baik gempa, longsor maupun kecelakaan lain.
Ia menegaskan, migitasi bencana dan ketahanan sektor pariwisata menjadi kebutuhan, karena kondisi sebagian besar objek wisata minim fasilitas keamanan.
Di samping itu, ungkap Werfete, daya wisata di wilayah tersebut rata-rata masih sangat alami dan belum tersentuh pembangunan infrastruktur penunjang maupun pengamanan secara maksimal.
“Perlu ada rambu-rambu yang kita pasang di titik-titik rawan, penyediaan petunjuk atau arahan bagi wisatawan di tempat-tempat tersebut,” kata Werfete kepada para wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat, Arfai, Senin (20/7/2026).
Pada kesempatan itu, ia mengimbau masyarakat Papua Barat maupun wisatawan yang ingin mengunjungi daya tarik wisata yang masih alami, harus memperhatikan keselamatan sebagai faktor utama dan senantiasa meningkatkan kewaspadaan serta mengutamakan keselamatan pribadi saat berkunjung.
“Sekali lagi, kami harap semua pengunjung tetap memperhatikan keselamatan sebagai faktor utama saat melakukan kunjungan wisata ke destinasi-destinasi kita di Papua Barat,” tandas Werfete. [FSM-R1]




















