Sorong, TP — Musim kemarau panjang yang memicu kekeringan ekstrem merampas sumber kehidupan warga Kampung Warmon Kokoda, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Ketiadaan hujan berbulan-bulan membuat cadangan air habis total, memaksa warga mengambil air dari kubangan rawa dan bekas galian air yang keruh, berbau, dan jauh dari standar higienis untuk mandi, mencuci, memasak, hingga diminum.
Selama ini masyarakat sepenuhnya bergantung pada air hujan. Sekarang, ketika langit tak lagi menurunkan rezeki, mereka tak punya pilihan lain. Membeli air bersih dari tangki swasta pun tak terjangkau, perekonomian warga tak mampu menopang biaya yang terus berulang.
“Kami ambil air dari bekas galian alat berat untuk mandi, cuci beras, masak, bahkan untuk minum,” ujar Kamsila Kasira, seorang ibu rumah tangga, dengan nada pasrah saat ditemui di lokasi, Rabu (25/8).
Ia menunjuk ke arah genangan air berwarna kecokelatan yang terbuka dan rentan tercemar bakteri. Risiko kesehatan harus diabaikan demi menyambung hidup keluarga sehari-hari. Kekhawatiran terbesar wabah penyakit pencernaan dan kulit, terutama pada anak-anak yang paling rentan.
Kamsila mewakili warga memohon perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah daerah. “Kalau bisa pemerintah tolong salurkan air bersih. Kalau kami tidak ada uang, kami terpaksa minum air kolam itu,” keluhnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menanti kedatangan bantuan armada distribusi air bersih. Krisis ini bukan sekadar soal kekeringan, melainkan soal kemanusiaan sebagai hak dasar yang kini terancam tak terpenuhi. [MPS-R2]










