Bintuni , TP — Musim kemarau panjang membuat lahan pertanian di kawasan SP 3 dan SP 5, Distrik Bintuni Timur, semakin kering. Keterbatasan air menyulitkan penyiraman tanaman, mengancam penurunan hasil panen dan merugikan para petani yang mengandalkan sayur-mayur untuk hidup.
Denis (34), petani di Kampung Rosib, SP 3, mengelola ladang di Jalur 10, Kampung Argosigemarai. Selama tiga bulan terakhir ia merasakan dampak kekeringan. Tanaman terong, pare, cabai rawit, dan pepaya yang ia tanam kekurangan air. Ia terpaksa menggali sumur manual sedalam 3,5 meter untuk menyiram, namun air yang tersedia belum cukup memenuhi kebutuhan.
“Kebutuhan air untuk tanaman cukup besar, sementara sumber air sangat terbatas,” ungkap Denis.
Ia berharap Dinas Pertanian Kabupaten Teluk Bintuni memperhatikan dan menyediakan sumur bor sebagai solusi. “Harapan kami pemerintah bisa membantu membuat sumur bor, supaya tanaman tetap bisa disiram dan kami tidak terus mengalami kerugian,” ucapnya.
Denis menekuni pertanian sejak ikut orang tuanya pindah dari Tasikmalaya, Jawa Barat, ke Bintuni pada 1996. Hasil panen dijual ke pedagang keliling maupun pasar. Baginya, bertani adalah profesi yang ia pilih dan jalani dengan ketekunan.
Keluhan serupa disampaikan Tatang (43), petani sayur di Jalur 10 SP 5 yang telah bertani di sana selama enam tahun. “Kita susah, Pak. Yang kita tanam tidak berkembang,” keluhnya. Ia berharap pemerintah segera mengatasi keterbatasan air melalui sumur bor atau sarana pengairan lain, sekaligus berdoa agar hujan segera turun.
Para petani menegaskan, bantuan sarana air sangat penting untuk menjaga tanaman tetap hidup, mengurangi kerugian, dan menjamin pasokan sayur bagi masyarakat Teluk Bintuni. [CR25-R2]










