• Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Tabura Pos - Akurat dan Cerdas
  • Home
  • PAPUA BARAT
  • MANOKWARI
  • DAERAH
    • MANSEL
    • PEGAF
    • BINTUNI
    • TELUK WONDAMA
  • POLHUKRIM
    • HUKUM & KRIMINAL
    • PARLEMENTARIA
  • DIKKES
    • BUDAYA & PARIWISATA
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
  • EKBIS
  • KABAR PAPUA
  • LINTAS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • PAPUA BARAT
  • MANOKWARI
  • DAERAH
    • MANSEL
    • PEGAF
    • BINTUNI
    • TELUK WONDAMA
  • POLHUKRIM
    • HUKUM & KRIMINAL
    • PARLEMENTARIA
  • DIKKES
    • BUDAYA & PARIWISATA
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
  • EKBIS
  • KABAR PAPUA
  • LINTAS PAPUA
No Result
View All Result
Tabura Pos - Akurat dan Cerdas
No Result
View All Result
Home DIKKES PENDIDIKAN

Mahasiswa FKIP Unipa Gelar Riset Penelusuran Jejak Pendidikan Papua dan Pengabdian Literasi di Mansinam

AdminTabura by AdminTabura
18/10/2026
in PENDIDIKAN
0
Mahasiswa FKIP Unipa Gelar Riset Penelusuran Jejak Pendidikan Papua dan Pengabdian Literasi di Mansinam

Mahasiswa FKIP Unipa Gelar Riset Penelusuran Jejak Pendidikan Papua & Pengabdian Literasi di Mansinam

0
SHARES
50
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Manokwari, TP – Sebanyak 45 mahasiswa semester III Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Papua (Unipa) menggelar riset lapangan bertajuk “Penelusuran Jejak Pendidikan Papua” berbasis Project-Based Learning (PjBL) di Pulau Mansinam, Manokwari, Sabtu (17/10/2026).

Pada kesempatan yang sama, sebanyak 6 mahasiswa semester VII FKIP Unipa juga melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa SD Inpres 10 Mansinam. Kegiatan ini menggunakan media Roda dan Kartu Literasi berbasis dialog film animasi 3D “Tom dan Regi” berorientasi Kontekstual Papua.

Dosen Pengampu Mata Kuliah, Quin D. Tulalessy, mengatakan bahwa kehadiran lembaga pendidikan zending pada masa awal di Tanah Papua telah mengubah pola hidup masyarakat setempat sekaligus menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Indonesia.

“Sejarah pendidikan pertama di Papua belum sepenuhnya terdokumentasikan secara lengkap dan mudah diakses, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat umum,” ujar Tulalessy kepada Tabura Pos di sela-sela pendampingan mahasiswa, pekan lalu.

Tulalessy menjelaskan, pengetahuan mengenai sekolah pertama, lokasi pendidikan awal, tokoh pendidik, peserta didik pertama, bentuk pembelajaran, bahasa pengantar, kurikulum, hingga respons masyarakat lokal masih perlu ditelusuri melalui berbagai sumber.

Oleh karena itu, pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Kontekstual Papua dengan pendekatan PjBL diharapkan dapat mendorong mahasiswa memecahkan persoalan tersebut.

“Melalui proyek ini, diharapkan tumbuh kemampuan mahasiswa untuk meneliti, berpikir kritis, menghargai sejarah dan budaya lokal, serta menghasilkan pengetahuan yang dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Mereka tidak hanya menguasai teori pendidikan kontekstual Papua, tetapi juga mampu meneliti, menemukan, memverifikasi, mendokumentasikan, dan menyajikan sejarah pendidikan Papua,” tegas Tulalessy.

Ia menambahkan, ada dua agenda utama yang dilaksanakan mahasiswa FKIP Unipa, yakni kegiatan pengabdian di SD Inpres 10 Mansinam dan riset penelusuran Jejak Pendidikan Papua.

Koordinator mahasiswa proyek “Penelusuran Jejak Pendidikan Papua”, Auwliyah Fajriani, bersama rekannya, Kristhin E.L. Manyakori, menjelaskan bahwa 45 mahasiswa peserta riset dibagi ke dalam empat kelompok dengan fokus topik wawancara yang berbeda.

Auwliyah merinci, kelompok pertama mengumpulkan data di RT 01/RW 01 terkait awal mula pendidikan zending di Papua. Kelompok kedua mengumpulkan data di RT 02/RW 01 mengenai pendaratan pertama kali Ottow dan Geissler di Pulau Mansinam.

Sementara itu, kelompok ketiga mengumpulkan data di Kampung Salobar (RT 03/RW 01) terkait pelaksanaan kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) Papua, dan kelompok keempat meneliti sistem pendidikan berpola asrama.

“Sebelum turun ke lapangan, kami melakukan studi dokumen terkait sejarah awal pendidikan di Tanah Papua sekaligus memetakan narasumber yang kompeten dan terpercaya. Ini menjadi langkah pengumpulan data awal kami,” terang Auwliyah.

Kristhin E.L. Manyakori menambahkan, data awal yang terkumpul di lapangan akan diverifikasi ulang dan dipadukan dengan kajian dokumen pendukung lainnya.

“Kami berencana menggelar lokakarya mini untuk memvalidasi data awal yang telah dikumpulkan. Jika laporan awal ini rampung, kami akan melanjutkan penelusuran jejak pendidikan Papua ke Kampung Miey, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, karena memiliki keterkaitan sejarah yang erat. Hasil akhir dari projek ini akan didokumentasikan dalam bentuk buku atau Jurnal Karya Ilma” jelas Manyakori.

Di sisi lain, perwakilan mahasiswa semester VII pelaksanaan Program Pengabdian Masyarakat, Putri Aurelia, menyampaikan bahwa kegiatan diawali dengan pemutaran film animasi 3D “Tom dan Regi” yang diikuti seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.

“Siswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas kecil (kelas 1–3) dan kelas besar (kelas 4–6). Untuk kelas kecil, kami menerapkan media Roda Literasi untuk pengenalan suku kata, sedangkan kelas besar berfokus pada materi sinonim dan antonim,” tutur Aurelia.

Menurut Aurelia, penyampaian materi sinonim (persamaan kata) dan antonim (lawan kata) bagi kelas besar bertujuan agar siswa dapat membedakan makna kata secara tepat.

“Materi sinonim dan antonim kami kaitkan dengan contoh kata-kata dalam kehidupan sehari-hari sehingga para siswa cepat menangkap pembelajarannya,” tambah Aurelia.

Sementara pada kelas kecil, media Roda dan Kartu Literasi difungsikan untuk mempermudah pengenalan suku kata dan melatih kemampuan membaca cepat.

“Media Roda dan Kartu Literasi ini kami desain sendiri. Sedangkan film animasi 3D Tom dan Regi merupakan adaptasi cerita rakyat yang digarap oleh alumni FKIP Unipa, Mery Rumainum,” ujar Aurelia.

Guru SD Inpres 10 Mansinam, Norma Kapiten, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada mahasiswa FKIP Unipa atas pelaksanaan program pengabdian tersebut.

Menurut Kapiten, program ini sangat membantu karena menggunakan media ajar yang kreatif serta relevan dengan konteks lokal Papua, sehingga siswa lebih cepat memahami materi.

“Kami sangat bersyukur. Para calon guru ini tidak hanya menerapkan metode ajar yang kreatif berbasis kontekstual Papua, tetapi juga turut mendalami sejarah awal pendidikan di Tanah Papua untuk diwariskan kepada generasi muda,” kata Kapiten. [FSM-R2]

Previous Post

Jumat Keliling di Masjid Al-Muttaqin, Kapolres Teluk Bintuni: Kamtibmas Adalah Tanggung Jawab Bersama

Next Post

Subuh Keliling di Masjid Al-Munawara, Kapolres Teluk Bintuni Ajak Jamaah Jaga Kamtibmas

Next Post
Subuh Keliling di Masjid Al-Munawara, Kapolres Teluk Bintuni Ajak Jamaah Jaga Kamtibmas

Subuh Keliling di Masjid Al-Munawara, Kapolres Teluk Bintuni Ajak Jamaah Jaga Kamtibmas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

ADVERTORIAL

Browse by Category

  • ARTIKEL
  • BINTUNI
  • Blog
  • BUDAYA & PARIWISATA
  • DAERAH
  • DIKKES
  • EKBIS
  • HUKUM & KRIMINAL
  • INFO GRAFIK
  • KABAR PAPUA
  • KAIMANA
  • KESEHATAN
  • LINTAS NUSANTARA
  • LINTAS PAPUA
  • MANOKWARI
  • MANSEL
  • NASIONAL
  • News
  • PAPUA BARAT
  • PAPUA BARAT DAYA
  • PARLEMENTARIA
  • PEGAF
  • PENDIDIKAN
  • POLHUKRIM
  • Post
  • TELUK WONDAMA
  • Uncategorized
  • VIDEO

© 2022 TABURAPOS - Akurat dan Cerdas.

No Result
View All Result
  • Home
  • PAPUA BARAT
  • MANOKWARI
  • DAERAH
    • MANSEL
    • PEGAF
    • BINTUNI
    • TELUK WONDAMA
  • POLHUKRIM
    • HUKUM & KRIMINAL
    • PARLEMENTARIA
  • DIKKES
    • BUDAYA & PARIWISATA
    • KESEHATAN
    • PENDIDIKAN
  • EKBIS
  • KABAR PAPUA
  • LINTAS PAPUA

© 2022 TABURAPOS - Akurat dan Cerdas.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!