Manokwari, TP – Anggota DPD RI Perwakilan Papua Barat, Filep Wamafma, meninjau reviltalisasi dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), yakni SMPN 10 Anggori dan SMP YPK Fanindi di Manokwari, Rabu (21/10/2026).
Kunjungan lapangan ini dilakukan dalam rangka mengevaluasi realisasi program revitalisasi (revit) bangunan sekolah dari pemerintah pusat agar berjalan optimal dan tepat sasaran di wilayah Papua Barat.
Wamafma menjelaskan, program revitalisasi dari pemerintah pusat sangat membantu pengembangan pendidikan di daerah, mengingat keterbatasan anggaran serta belum maksimalnya pengelolaan isu pendidikan di tingkat lokal.
”Program revit sekolah dari pusat ini sangat membantu pendidikan di daerah. Kalau kita lihat foto-foto sebelum dan sesudah realisasi program revit, ada perubahan besar,” ujar Wamafma kepada wartawan di sela-sela peninjauan di SMPN 10 Anggori.
Sebagai wakil rakyat Papua Barat di Senayan, Ketua Komite III DPD RI ini menyampaikan apresiasi tingginya kepada Presiden Prabowo Subianto serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) atas pelaksanaan program tersebut.
Ia berkomitmen untuk terus mendorong agar alokasi program revit bagi Papua Barat ditambah pada tahun 2025. Meski mengapresiasi bantuan pusat, Wamafma menyoroti perlunya sinergi dan peran aktif dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Menurutnya, daerah harus mengambil peran penyerta untuk melengkapi sarana yang belum tercover oleh program revitalisasi.
”Ketika pemerintah pusat sudah hadir dengan program ini, bagaimana peran kabupaten dan provinsi? Hasil pantauan kita, bangunan hasil Revit sudah jadi, tetapi ruangannya masih kosong, seperti ruang laboratorium. Ini sangat riskan. Gedung SMP dan SMA belum memiliki laboratorium yang memadai untuk menunjang pendidikan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pendidikan merupakan sebuah sistem yang membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari sarana fisik, biaya pendidikan, mutu guru, hingga kesejahteraan tenaga pendidik.
”Sangat berdosa jika kita hanya berpikir bahwa siswa cukup diberikan bantuan uang atau beasiswa. Okelah, itu bagian dari salah satu hal, tetapi bicara pendidikan itu adalah soal sistem. Jangan sampai gedung sudah bagus, tetapi sarana dan isinya tidak ada,” tegasnya.
Dari sampel peninjauan di dua sekolah tersebut yang nantinya akan dilanjutkan ke tingkat SMA, Wamafma menilai penyaluran anggaran yang didistribusikan langsung ke sekolah terbukti sangat efektif dan transparan.
”Terbukti bahwa ketika anggaran didistribusikan langsung ke sekolah dan sekolah yang mengelola, justru terhindar dari faktor manipulasi maupun korupsi. Anggaran Revit yang ada terbukti mampu membuat kondisi sekolah menjadi jauh lebih baik,” jelas Wamafma.
Selain sekolah negeri, Wamafma juga mendorong agar sekolah-sekolah swasta turut mendapatkan bantuan serupa. Sebab, salah satu kendala utama sekolah swasta adalah status kepemilikan tanah yang masih atas nama pribadi atau lembaga agama, bukan atas nama yayasan, sehingga membatasi akses bantuan dari kementerian.
Terkait temuan di lapangan, Wamafma menyatakan akan membawa sejumlah isu strategis ke tingkat kementerian, termasuk pemenuhan sarana laboratorium, percepatan pencairan anggaran sertifikasi guru yang terhambat, hingga kepastian status guru honorer.
”Perekrutan honorer daerah menjadi pegawai sering kali belum mengoptimalkan pengangkatan PPPK atau ASN bagi guru dan tenaga kesehatan (nakes). Padahal kita sangat membutuhkan mereka, dan ini harus menjadi skala prioritas,” tutur Wamafma
Ia mengingatkan bahwa mengabaikan pendidikan sama halnya dengan tidak menyiapkan masa depan generasi Papua.
“Pemerintah daerah diberikan mandat menyiapkan generasi masa depan. Saya berharap kabupaten dan provinsi memetakan dan merencakanan dengan baik. Jika kekurangannya di laboratorium, lengkapi laboratoriumnya. Jika kekurangannya pada tenaga pengajar, tambahkan gurunya. Ini sederhana, asalkan ada komitmen bersama untuk membangun pendidikan,” tandas Wamafma.
Sementara itu, Kepala SMPN 10 Anggori, Erwin Pattikawa menyampaikan apresiasi kepada Filep Wamafma yang berkunjung ke SMPN 10 Anggota dalam rangka evaluasi program revit bangunan sekolah.
“Dalam kunjungan, banyak hal yang kami diskusikan bersama terutama terkait program revit dari pemerintah pusat,” kata Pattikawa kepada wartawan usai kunjungan lapangan.
Dikatakan Pattikawan, pihaknya sangat bersyukuran karena menerima dan dipercaya mengelola program revit dari pusat. Program revit ini telah diselesaikan September lalu.
“Ada tujuh gedung yang direnovasi diantaranya, perpustakaan, yang kedua lab IPA, yang berikut adalah empat ruang rombel, dan satu toilet. Jadi total semua ada tujuh,” ujarnya seraya menambahkan, pihaknya akan mengusulkan dua program berikut lagi di tahun depan. [FSM-R2]










