Manokwari, TP – Festival Santri Manokwari (Santri.Fest) 2026 yang digelar selama tiga hari, 29–31 Oktober 2026, di Lapangan Kampung Aimasi, SP 3, Manokwari berlangsung meriah. Pembukaan telah berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh Kepala Kampung Aimasi, Abu Hanifah, Ketua Panitia Imam Santoso, Ketua Himpunan Santri Manokwari dan para tamu undangan lainnya.
Festival yang diselenggarakan HSM dan GP Ansor ini menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026, dengan perpaduan lomba, pentas seni, talk show kewirausahaan, fun run, hingga tabligh akbar.
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, sebagai penghargaan atas peran santri dan ulama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Di Manokwari, peringatan tahun ini dikemas lewat festival yang mengusung semangat kebersamaan, kreativitas, dan kemandirian santri, dengan panggung berhias ornamen khas Papua dan tata cahaya warna-warni.
Usai pembukaan, Kamis, 29 Oktober acara dilanjutkan dengan lomba santri cilik di tiga cabang, yakni adzan subuh, hafalan surat pendek, dan mewarnai.
Lomba ini menjadi sarana menanamkan kecintaan pada nilai-nilai keislaman sejak dini sekaligus ruang bagi anak-anak mengekspresikan kreativitas.Malam harinya, panggung pentas seni diisi dengan beragam penampilan dari santri dan masyarakat.
Penonton disuguhi pertunjukan bela diri, pembacaan puisi, dan tari tradisional Banyuwangi yang dibawakan oleh sanggar tari.Para santriwati juga tampil dalam tari kolosal dengan busana warna-warni dan mahkota keemasan.
Rangkaian penampilan ini memperlihatkan keragaman bakat seni di kalangan santri dan masyarakat Manokwari.Festival hari kedua, Jumat, 30 Oktober, dilaksanakan lomba festival banjari dan sholawat.
Kelompok dari berbagai lembaga dan komunitas di Manokwari tampil membawakan lantunan sholawat diiringi tabuhan rebana.Di sela perlombaan, panitia menggelar fashion show busana muslimah dengan busana yang sopan sekaligus modis, menunjukkan bahwa nilai Islam dan gaya masa kini bisa berjalan beriringan.
Menjelang sore, talk show Santripreneur menghadirkan dua narasumber. Mereka adalah Billy Hakim Ardiwijaya, S.Sos., M.M., konsultan/tenaga ahli pengembangan UMKM pertanian dan ekonomi syariah Bank Indonesia Papua Barat, serta H. Muhammad Kosim, Direktur CV Jico Jaya. Keduanya berbagi pengalaman dan kiat menjadi santri yang mandiri secara ekonomi.
“Tentu di awal, yang paling penting adalah memulai usaha dengan niat yang baik. Sebenarnya, memulai usaha itu dari yang kecil-kecil dulu, yang real-real (realistis) saja dulu. Lalu promosikan kepada orang-orang terdekat dahulu, mereka butuhnya apa, kita tawarkan ide kita ke mereka. Setelah dijual dan laku, jangan lupa dicatat (hasil penjualannya). Karena itu penting. Otak kit aini daya ingatnya terbatas, oleh karena itu penting untuk mencatat atau menyimpannya di komputer,” ujar Billy.
Pada hari ketiga, sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan Fun Run Sarungan. Peserta berlari menyusuri jalan mengenakan kostum kegiatan dengan bawahan sarung. Sarung sebagai simbol identitas santri dan sekaligus ajakan hidup sehat.
Malam harinya, dilaksanakan panggung puncak dengan kegiatan tabligh akbar oleh Ustadz Hamam Nasiruddin. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya anak yang sholih dan sholihah.
“Kunci hidup barokah dan bahagia selamanya adalah memiliki anak yang sholih sholihah. Sebab, semua kenikmatan di dunia ini akan hilang dan sirna pada masanya, kecuali anak yang sholih. Jangankan ketika masih hidup, sudah meninggal pun kita akan tetap diingat oleh anak, karena anak itu sholih dan sholihah,” tuturnya.
Moment ini juga menjadi akhir rangkaian Santri.Fest Manokwari 2026 yang secara resmi ditutup oleh Wakil Gubernur Papua Barat H. Mohamad Lakotani, S.H., M.Si. Dalam sambutannya, Lakotani mengajak untuk mempersiapkan generasi Papua Barat yang cerdas, sehat, terampil, berdaya saing, dan berakhlak mulia. Sebab, masa depan Papua Barat sangat ditentukan oleh generasi muda.
Ketua Panitia Imam Santoso berharap peringatan Hari Santri kali ini tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Momentum ini harus mempererat silaturahmi para santri, membuat santri semakin hebat, kreatif, serta berakhlak mulia.[Rls-R3]









