Manokwari, TP – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) di kampung-kampung di wilayah Provinsi Papua Barat.
Anggota DEN Unsur Akademisi, Musri menjelaskan, jika jika mengirimkan bahan bakar atau membangun jaringan listrik ke kampung-kampung yang penduduknya terbatas, sangat mahal, tetapi jika Pemprov dapat mengembangkan potensi ETB di kampung-kampung, maka investasinya tidak begitu besar dan target pencapaian elektriofikasi secara nasional cepat tercapai.
“Inilah yang sebenarnya harus didorong Pemprov Papua Barat. Bagaimana kita memanfaatkan kearifan lokal. Kearifan lokal ini selalu saya tekankan di DEN bahwa perlu kita dorong pengembangan kearifan lokal,” kata Musri kepada para wartawan di salah satu hotel di Manokwari, Selasa (6/8/2024).
Menurutnya, wilayah pedesaan atau kampung yang memiliki potensi EBT, misalnya air yang hanya mampu 10 kw, tetapi bisa mencukupi kebutuhan energi masyarakat di kampung, maka dapat dikembangkan dengan investasi yang tidak besar.
Menurut dia, ini sangat disarankan, karena biaya pembangunan jaringan sejauh ratusan meter dari pembangkit tenaga listrik atau dari perkotaan ke kampung untuk pemenuhan kebutuhan energi sangat mahal.
“Kalau kita kembangkan EBT di daerah, yang saya istilahkan kearifan lokal itu, mungkin akan cepat tercapai tingkat elektrifikasi kita dari segi listrik,” jelas Musri.
Bahkan, sambung dia, dari segi bahan bakar minyak (BBM) pun demikian, karena ada banyak potensi biofuel atau bahan bakar nabati yang bisa dikembangkan.
“Tapi ingat, masyarakat harus difasilitasi untuk mendorong produksinya. Contohnya, kita punya pohon aren yang dapat dibuat biofuel dari buah aren, dari dapat dibuat alkohol bikin mabuk, mendingan dibuat untuk kepentingan BBM,” harap Musri.
Ditambahkannya, inilah yang belum disadari pemerintah, bukan saja daerah, tetapi juga Pemerintah Pusat, belum melihat potensi-potensi kearifan lokal di daerah. [FSM-R1]




















