Launching Buku, Seminar dan Dialog Pembangunan
Manokwari, TP – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menegaskan, pembangunan daerah ke depan harus memasuki fase peradaban kedua yang berlandaskan nilai iman, kolaborasi sosial, serta penghormatan terhadap masyarakat adat.
Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Dialog Pembangunan dan Seminar dalam rangka mensyukuri 171 Tahun Pekabaran Injil di Tanah Papua. Kegiatan yang juga membahas peradaban kedua sesuai nubuat Domine I.S. Kijne tersebut melibatkan unsur gereja, pemerintah, dan masyarakat adat.
Menurut Dominggus, peringatan 171 tahun Pekabaran Injil yang dimulai sejak kedatangan Ottow dan Geissler di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 merupakan momentum titik awal transformasi peradaban orang Papua.
“Fondasi spiritual yang ditanamkan sejak awal telah membentuk karakter dan jati diri orang Papua hingga hari ini. Nilai iman harus tetap menjadi dasar dalam pembangunan,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan nubuat Domine I.S. Kijne pada 1925 di Wasior tentang kebangkitan orang Papua untuk memimpin diri sendiri. Pesan tentang kejujuran, kesetiaan, dan ketaatan pada nilai-nilai moral harus menjadi kompas dalam pembangunan daerah.
Pembangunan Tak Hanya Fisik, Tapi Juga Pembangunan Manusia
Gubernur menegaskan, Pemerintah Provinsi Papua Barat berkomitmen mewujudkan visi Astadiri (aman, sejahtera, bermartabat dan mandiri) melalui pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan karakter dan nilai kemanusiaan.
“Pembangunan bukan semata fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang berakar pada nilai iman dan kearifan lokal,” katanya.
Menurutnya, dialog yang mempertemukan tiga pilar utama – gereja, pemerintah, dan masyarakat adat – memiliki makna strategis, terutama dalam mendukung implementasi Otonomi Khusus Papua Jilid II. Sinergi ketiga unsur tersebut penting untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan bersifat adil, humanis, berkelanjutan, serta menghormati hak-hak masyarakat adat.
Dalam kesempatan yang sama, dilakukan peluncuran buku Alkitab dan Konservasi Alam karya Prof. Dr. Sepus M. Fatem dan Pdt. Dr. Anthon Rumbewas. Dominggus menyebut karya tersebut relevan dengan kondisi Papua Barat yang memiliki kekayaan hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati tinggi.
“Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga panggilan iman. Pembangunan harus seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Gubernur mengapresiasi panitia peringatan HUT Pekabaran Injil ke-171 dan DPW FGM GKI Papua Barat atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia berharap dialog menghasilkan rekomendasi konkret sebagai peta jalan pembangunan Papua Barat yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. [K&K-R2*]




















