Manokwari, TP – Usia bukan penghalang untuk kembali memetik dawai gitar dan mengejar gairah yang sempat padam. Pesan kuat inilah yang dituangkan Raditya Dika dalam novel terbarunya bertajud, Timun Jelita, sebuah drama komedi segar yang memotret kolaborasi unik antara generasi paruh baya dan mahasiswi berbakat dalam merintis karier musik dari panggung kecil.
Dalam novel volume pertama setebal 117 halaman ini, Raditya Dika menceritakan kisah Timun seorang pria paruh baya yang kembali memutuskan untuk mengejar mimpinya untuk bermusik usai menerima gitar peninggalan ayahnya.
Keinginan ini membawa Timun untuk membentuk kembali sebuah band, meskipun dirinya dihadapkan dengan keterbatasan usia tetapi juga sulitnya mencari personel. Dalam perajalannya, Timun bertemu dengan sepupunya Jelita seorang mahasiswi berbakat yang sempat mengalami trauma dalam dunia musik.
Dari pertemuan keduanya, menjadi awal terbentuknya duo band “Timun Jelita” yang perlahan merintis karier dari panggung kecil hingga mendapatkan perhatian produser musik.
“Kisah ini menekankan pentingnya konsistensi, Kerjasama dan keberanian dalam mengejar impian, meski dihadapkan pada keterbatasan usia,” tulis Raditya Dika dalam pers releasenya yang diterima Tabura Pos via WhatsApp, Rabu (8/4/2026).
Tidak hanya soal karier, unsur kemanusiaan juga kental terasa melalui kehadiran tokoh Putri, istri Timun, yang setia mendukung impian suaminya di tengah perjuangan mereka menjalani program kehamilan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk tawaran karier solo untuk Jelita, duo ini tetap memilih bertahan dan berkembang bersama, sambung Raditya Dika.
Dari sisi penulisan, Raditya Dika menghadirkan gaya bahasa ringan dengan sentuhan humor khas. Penggunaan istilah kekinian dan bahasa Inggris turut memperkuat nuansa cerita, meski di sisi lain terdapat beberapa kosakata yang dinilai kurang relevan bagi pembaca muda seperti kata “nanar” pada kalimat “Malamnya, Jelita duduk dengan pandangan nanar di depan laptopnya” (hal. 119).
Meski novel yang diterbitkan Gags Media ini memiliki cela, deskripsi yang diberikan oleh pengarang sangat detail, kondisi di dalam suatu kejadian pada novel ini dideskripsikan dengan sangat tajam dan sesuai porsinya oleh pengarang.
Hal ini memainkan penginderaan dan imaninasi pembaca, sehingga merasa benar-benar terlibat dan merasakan suatu kejadian ataupun kondisi di dalam novel tersebut.
Penulisan novel ini sebagian besar menggunakan sudut pandang orang ketiga, pengarang langsung menyebutkan nama tokoh-tokoh yang terlibat. Alur maju yang dipilih dalam memandu pembaca melewati bilik-bilik kisah tiap tokoh, didukung kemahiran pengarang dalam mengemas setiap jalannya cerita, sehingga tidak terkesan janggal atau aneh.
Secara keseluruhan, Timun Jelita dinilai layak dibaca oleh berbagai kalangan, baik sebagai hiburan maupun sumber inspirasi. Novel terbitan 2024 ini cocok bagi pembaca pemula yang ingin menikmati cerita ringan namun bermakna, tutup Raditya Dika. [*FSM]




















