20 Siswa Terlibat, 13 Korban Dilarikan ke Rumah Sakit
Manokwari, TP – Kepala SMA Taruna Kasuari Nusantara, Brigjen TNI (Purn) Yusuf Ragainaga, membenarkan terjadinya insiden perselisihan yang berujung pada tindak kekerasan yang dialami sejumlah siswa kelas 10. Kejadian yang berlangsung di lingkungan asrama tersebut langsung mendapatkan tindakan tegas dari pihak manajemen sekolah.
Menurut Yusuf, peristiwa terjadi pada Rabu, 22 April 2026 sekitar pukul 19.00 WIT, yang diduga berawal dari gesekan terkait sistem pembinaan dan pola kehidupan di asrama. Ia menegaskan bahwa segala bentuk tindakan kekerasan yang sampai menimbulkan cedera tidak dapat dibenarkan dan akan diproses sesuai aturan yang berlaku.
“Setiap siswa yang terbukti melakukan pelanggaran berat seperti pemukulan hingga menyebabkan korban luka-luka, akan dikenakan sanksi tegas sesuai peraturan sekolah,” tegasnya saat ditemui wartawan, Kamis (23/4/2026).
Pihak sekolah telah melakukan pendataan menyeluruh terkait kasus ini. Dari hasil pemeriksaan awal, tercatat ada sekitar 20 siswa yang terlibat dalam kejadian tersebut, sementara jumlah korban yang harus mendapatkan perawatan medis berjumlah 13 orang.
“Kejadian berlangsung pada malam hari, dan kita langsung turun tangan melakukan pendataan. Jumlah tersebut masih data sementara dan akan terus diperbarui. Kami juga memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang layak, dan kondisinya akan terus dilaporkan kepada instansi terkait,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi konflik lanjutan, para siswa yang terlibat dalam pelanggaran tersebut untuk sementara waktu dikembalikan kepada orang tuanya. Meskipun demikian, sekolah tetap menjamin hak pendidikan mereka, terutama di tengah masa pelaksanaan ujian.
“Karena ini sistem asrama, maka langkah terbaik untuk mencegah gesekan adalah memulangkan mereka sementara. Namun masa depan pendidikan tetap kami jaga, termasuk pelaksanaan ujian yang akan diikuti secara daring atau online,” ungkap Yusuf.
Evaluasi Menyeluruh Sistem Pembinaan
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, pihak sekolah berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh sistem yang diterapkan. Evaluasi akan mencakup peran guru pembimbing, pamong asrama, hingga petugas keamanan.
“Kita akan perkuat sistem pengawasan dan memperbaiki pola pembinaan agar lingkungan sekolah tetap aman dan kondusif,” ujarnya.
Ke depannya, sekolah juga akan mengundang seluruh orang tua siswa kelas 10 dan 11 untuk melakukan pertemuan dan memberikan penjelasan terkait kasus ini. Selain itu, akan dirancang pola pembinaan baru yang lebih humanis, berbasis pendampingan antar tingkat.
“Kita akan terapkan sistem di mana lima orang kakak tingkat membimbing lima adik tingkat. Dengan pola asuh seperti ini, diharapkan setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan kekeluargaan, sehingga meminimalisir terjadinya gesekan dan kekerasan,” pungkasnya. [SDR-R2]




















