Manokwari, TP – Keluarga pasien menyoroti penanganan pasien yang dinilai lambat dan komunikasi yang buruk di RSUD Manokwari. Keluarga pasien memposting sorotannya di media sosial (medsos) Facebook ‘Info Kejadian Manokwari dan Sekitarnya’.
Menanggapi sorotan itu, Direktur RSUD Manokwari, drg. Yannie F.M. Lefaan menyampaikan permohonan maaf jika dalam pelayanan, terdapat kekurangan.
Dirinya memastikan pihaknya terbuka terhadap kritik dan saran demi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan serta bisa disampaikan secara resmi agar bisa ditelusuri dengan tepat.
“Keluhan yang membuat surat terbuka, tetap kami tindaklanjuti dan kami respon. Kami juga meminta membuat laporan resmi ke BLUD RSUD biar bisa ditindaklanjuti secara tepat,” kata Yannie Lefaan kepada para wartawan di RSUD Manokwari, Sabtu (25/4/2026).
Dia pun menjelaskan kronologis miskomunikasi yang berawal dari pasien yang datang ke poli kandungan, Rabu (15/4/2026), dengan tujukan dari Puskesmas Amban dalam kondisi hamil 6 bulan dan mengalami anemia, tetapi tidak kritis.
Dijelaskannya, terdapat perbedaan kronologis antara informasi yang beredar di medsos dan data serta catatan medis yang dimiliki pihak RSUD, salah satunya tentang kondisi pasien yang disebut kritis.
Diutarakannya, yang menentukan pasien kritis itu kewenangan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP). “Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, pasien tidak dalam kondisi kritis, tetapi memang membutuhkan tindakan medis berupa transfusi darah,” jelas Yannie Lefaan.
Lanjutnya, pasien lalu mendapatkan pelayanan di poli kandungan, termasuk pemeriksaan lanjutan melalui laboratorium sebelum diarahkan menjalani perawatan di ruang bersalin.
Dalam prosesnya, sambung Yannie Lefaan, pasien dan keluarga beberapa kali keluar masuk rumah sakit, sehingga menghambat komunikasi di antara petugas medis dan pasien.
“Terjadi kendala koordinasi dengan Palang Merah Indonesia karena keluarga pasien tidak berada di tempat dalam rentang waktu tertentu, sehingga informasi lanjutan tidak tersampaikan secara optimal,” jelas Yannie Lefaan.
Dirinya berharap pasien maupun keluarga bisa datang langsung untuk melakukan klarifikasi supaya diketahui secara pasti letak miskomunikasi yang terjadi, karena jika terdapat kekeliruan dalam pelayanan bisa segera dievaluasi.
Ditambahkan Yannie Lefaan, jika terjadi kesalahpahaman, rumah sakit bisa memberikan penjelasan dan edukasi secara langsung.
Direktur RSUD menambahkan, saat ini pasien masih membutuhkan transfusi darah dan pihak RSUD sudah berkoordinasi dengan PMI, tetapi stok darah yang tersedia belum sesuai kebutuhan pasien.
“Jika ada kekeliruan, kami akan melakukan perbaikan. Semua permasalahan akan diselesaikan secara adil sesuai mekanisme yang berlaku,” tandas Yannie Lefaan. [SDR-R1]




















