Manokwari, TP – Warga dan para pengendara kendaraan bermotor sering mengeluhkan aktivitas pengerukan gunung untuk mengambil tanah atau galian C di Jl. Drs. Esau Sesa (Jalan Baru, red), Kabupaten Manokwari.
Sebab, material dari pengerukan tanah yang diangkut truk sering kali jatuh ke badan jalan, sehingga membuat jalan menjadi licin Ketika hujan dan berdebu ketika cuaca sedang panas.
Selain itu, warga pun memprediksikan bahwa dengan pengerukan tanah yang tidak terkendali, maka ke depan tentunya akan memicu terjadi banjir di sekitar wilayah tersebut.
Sekaitan dengan keluhan tersebut, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manokwari, Marthen L. Baransano menjelaskan, pihaknya dan perangkat terkait, seperti Satpol PP dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), dan Dinas Perhubungan sudah turun ke lokasi galian C tersebut.
“Untuk dokumen dari perusahaan tersebut, memang mereka punya dokumen izin untuk penggalian C itu lengkap. Namanya pemerintah daerah, kita mendukung setiap pembangunan untuk memajukan kita punya Kota Manokwari ini,” kata Baransano kepada Tabura Pos di kantornya, Senin (11/5/2026).
Dikatakannya, meski sudah memiliki dokumen, tetapi DLHP tetap memberikan arahan ke pihak perusahaan untuk memperhatikan lingkungan jalan agar tidak mengganggu atau membahayakan masyarakat yang setiap hari beraktivitas di Jl. Drs. Esau Sesa.
“Material begitu sangat mengganggu, apalagi panas, debu sangat mengganggu. Kita minta setiap hari ada penyiraman. Mereka penyiraman sehari tiga kali, pagi, siang, dan sore untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” urai Baransano.
Selain itu, jelas Baransano, pengangkutan material galian C, setiap truk diwajibkan memakai terpal untuk menutup bak yang bermuatan material tanah.
“Kita sudah arahkan mereka. Semua itu harus diperhatikan, jangan sampai tanah jatuh di jalan dan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan,” kata Baransano yang menjabat Plt. Kepala DLHP Manokwari sejak April 2026. [SDR-R1]




















