Manokwari, TP — Kongres PSSI Papua Barat yang mengagendakan Pemilihan Ketua Periode 2026-2030 bakal digelar 7 November 2026. Segala proses dan tahapan yang sedang berjalan diharapkan berjalan prosedural dan transparan sehingga diharapkan melahirkan ketua yang dapat membangkitkan Tim Perseman Manokwari yang sudah lama tenggelam.
Harapan itu disampaikan Legenda Perseman Manokwari 1986, Piet H. Suabey, Mantan Pemain Perseman Manokwari, Hesrom Baturinding dan Marthen Kabiay saat dijumpai wartawan di Aro-M, Jumat (23/10/2026) malam.
Hesrom menurturkan, pembenahan sepak bola daerah perlu dilakukan secara serius, terutama dalam meningkatkan prestasi klub dan memperkuat pembinaan pemain usia dini.
“Kami berharap seluruh tahapan pemilihan Ketua Asprov PSSI Papua Barat berjalan profesional dan netral tanpa keberpihakan kepada calon tertentu. Sehingga, kongres mendatang dapat menghasilkan kepengurusan yang mampu membawa perubahan bagi perkembangan sepak bola di Papua Barat,” ujarnya.
Hersrom menilai kepengursan PSSI peridoe 2022-2026 berjalan cukup baik, namun hanya mengikuti agenda PSSI Pusat, seperti pergelaran piala soeratin, liga 4, dan belum ada terobosan baru apalagi melahirkan Tim Perseman kebanggan warga Manokwari.
Ia bersama Mantan Perseman lainnya secara terbuka mendukung dr. Fransiscus Tanuardus karena menilai bakal calon tersebut memiliki kecintaan terhadap sepak bola serta fasilitas pendukung untuk pengembangan pemain muda.
“Kami berharap ada perubahan pada periode kepengurusan berikutnya. Klub-klub yang berkompetisi di Liga 4 harus didorong agar dari tahun ke tahun ada yang bisa promosi ke Liga 3. Kami juga punya kerinduan melihat Perseman kembali bangkit,” ujarnya.
Dukungan terhadap pembenahan organisasi juga disampaikan mantan pemain Perseman, Marthen Kabiay. Marthen menegaskan, pengawalan terhadap proses pemilihan perlu dilakukan sejak tahapan prakon-gres hingga pelaksanaan kongres demi lahirnya tata kelola organisasi yang lebih baik.
Menurutnya, pembenahan sepak bola Papua Barat harus mencakup dua aspek utama, yakni tata kelola organisasi dan peningkatan kualitas teknis sepak bola. Potensi pemain, pelatih, dan klub lokal, perlu didukung oleh kepengurusan yang transparan dan profesional agar mampu berkembang dan bersaing.
“Kami sebagai pecinta sepak bola di Manokwari akan tetap mengawal proses ini, bukan hanya saat kongres, tetapi juga pada tahapan prakon-gres. Ini menjadi bagian dari kontrol untuk mendorong tata kelola organisasi yang lebih baik,” katanya.
Legenda Perseman Manokwari 1986, Piet H. Suabey, juga berharap kepengurusan baru Asprov PSSI Papua Barat dapat memberikan perhatian serius terhadap kebangkitan sepak bola daerah, termasuk Perseman Manokwari yang dinilainya mengalami kemunduran dalam beberapa tahun terakhir.
Piet menilai diperlukan figur yang memiliki komitmen, kepedulian, dan keseriusan untuk membangun sepak bola Papua Barat secara berkelanjutan.
Ia mengingatkan agar pengelolaan sepak bola tidak dicampuradukkan dengan kepentingan politik dan pembinaan pemain muda dan pengembangan klub harus menjadi prioritas utama.
Dengan pembinaan yang terarah dan pengelolaan organisasi yang baik, ia berharap sepak bola Papua Barat dapat kembali menunjukkan daya saing di tingkat nasional.
“Selama ini nama Perseman Manokwari meredup, dari mana lahirnya tim Perseman, kalau bukan dari pembinaan dan tata kelola yang baik, sehingga olahraga jangan dicampur dengan politik,” pungkasnya. [SDR-R2]










