Manokwari, TABURAPOS.CO – Bupati Teluk Wondama, Hendrikus S. Mambor begitu bangga dan bersyukur karena situs sejarah religi Aitumeiri di Miei, Wasior Kabupaten Teluk Wondama telah didaftarkan di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Papua Barat.
Dikatakan Mambor, Balai Pelestarian Cagar Budaya Papua Barat saat ini tengah berupaya mendorong dan mendaftarkan situs sejarah religi Aitumeiri ke tingkat Nasional.
“Ya, kalau situs Aitumeiri di Miei terdaftar ditingkat nasional meskipun batunya kecil saja, tapi punya nilai yang sama seperti Candi Prambanan maupun Candi Borobudur,” kata Mambor kepada wartawan di Gedung Auditorium PKK Arfai Perkantoran, Rabu (24/1/2024).
Menurutnya, ketika situs Aitumeiri terdaftar ditingkat nasional, maka Pemkab Teluk Wondama bisa mendapatkan dukungan anggaran guna mendorong program revitalisasi sejumlah situs religi di Teluk Wondama.
Disinggung terkait program revitalisasi situs religi di Teluk Wondama yang sudah berjalan, Mambor menerangkan, masih banyak pekerjaan, tapi saat ini pihaknya sedang mengerjakan zona inti terlebih dahulu.
“Kita sudah merevitalisasi rumah I.S. Kijne kembali sejak tahun 2008 silam. Dulu rumah I.S. Kijne tidak terawat dengan baik hingga tinggal puing-puing hanyalah tiang dan tempok. Lalu, aula tempat mereka belajar, asrama-asrama sudah dibangun kembali,” terang Mambor.
Kemudian, sambung dia, yang belum direvitalisasi kembali yakni, sekolah, lapangan, tangga naik ke batu inspirasi dan patung I.S. Kijne. “Inilah yang akan dibangun segera,” ujar Mambor.
Ditanya terkait aksebilitas mendukung pengembangan situs sejarah religi di Teluk Wondama dan para wisatawan, terang Mambor, pembangunan bandara pihaknya mendapatkan dukungan dana, baik dari Pemkab Wondama, Pemprov maupun Pemerintah Pusat.
Ditambahkan Mambor, di Bappenas terdapat 17 bandar udara dan masih terdaftar sebagai program strategis nasional (PSN) dan salah satunya bandara di Teluk Wondama.
“Walaupun persoalan lahan masih berproses. Tapi, masing-masing pemilik hak ulayat sudah membuka diri agar pekerjaan tetap berjalan. Tahun lalu, kami dapat dukungan dana senilai Rp. 5 miliar dari provinsi untuk pembersihan lahan bandara,” ujarnya.
Kemudian, kata dia, tahun ini pihaknya mendapatkan dukungan dana dari Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat, hanya saja dirinya belum memastikan nilai bantuannya, namun kemungkinan Rp. 10 miliar.
“Puji Tuhan dari pendekatan dan mediasi-mediasi yang kami lakukan, kita sudah bangun jalan masuk sekitar 1,6 km dan pembersihan lahan sudah berjalan dan tahun ini mungkin ada pembanganan fasilitas darat,” ujarnya.
Dikatakan Mambor, pihaknya dijadwalkan dalam waktu dekat bertemu Dirjen Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan RI guna membicarakan terkait pembersihan lahan dan runway bandara. [FSM-R3]




















