Manokwari, TABURAPOS.CO – Rektor Institut Pertaian Bogor (IPB), Prof. Dr. Arif Satria mendorong pemuda Papua yang berada di Papua Barat, untuk bisa menjadi motor penggerak perekonomian agar kedepan Papua Barat menjadi daerah mandiri pangan
Mewujudkan menjadi Papua mandiri pangan, kata dia, Pemuda Papua harus terus didorong untuk menjadi petani milenial, sehingga kedepan tidak lagi menyuplay kebutuhan pangan dari luar.
Namun demikian, akui Arif peningkatan minat generasi muda terhadap sektor pertanian adalah salah satu tantangan yang harus dijawab dengan langkah-langkah konkrit, salah satunya dengan menyiapkan sumber daya manusia yang ada khususnya di perguruan tinggi untuk menjadi pelaku-pelaku di bidang pertanian.
Seperti, dengan melakukan talent mapping atau pemetaan bakat bagi masyarakat khususnya pemuda di Papua yang berminat untuk menjadi petani.
Apabila telah memiliki niat, lanjut dia, perlu diarahkan secara sistematis. Hal serupa sudah diterapkan di IPB dan ketika dilakukan talent mapping kepada mahasiswa ternyata ada 43 persen mahasiswa IPB yang menjadi pengusaha.
“Itulah yang kemudian kita arahkan setiap tahunnya, tahun pertama apa, tahun kedua apa, tahun ketiga apa tahun keempat apa, begitu pula di Papua nanti saya yakin masih banyak pemuda yang berminat,” ucap Arif, Selasa (31/01).
Menurutnya pemuda saat ini cukup realistis dan akan cukup mudah memahami bisnis yang sangat menjanjikan kapanpun dimanapun adalah bisnis pangan karena semua orang pasti makan.
“Sekarang anak-anak milenial semakin realistis dalam menghadapi dan menyikapi itu sehingga perlu kita arahkan dengan baik supaya mereka menjadi pelaku-pelaku yang tangguh,” tuturnya.
Arif mendorong agar pemuda khususnya di Papua Barat bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang ada di Papua Barat sehingga kedepannya Papua Barat tidak lagi menyuplay kebutuhan pangan dari luar tapi bisa menjadi sebuah wilayah yang mandiri pangan.
“Saya kira ini satu tekad yang harus terus diwujudkan Papua mandiri pangan dan pemuda petani milenial yang baik,” tukasnya.
Untuk meningkatkan produktivitasnya, Arif mengatakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi untuk meningkatkan produktivitas. Hal itu dimaksudkan agar memudahkan para pelaku di sektor pertanian melakukan kegiatannya.
Rektor Institut Pertaian Bogor (IPB) ini mengatakan, harus diakui jumlah petani semakin lama semakin menurun dan itu merupakan hal yang wajar yang terjadi di seluruh negara di dunia.
Menurutnya penurunan jumlah petani sejauh ini masih diiringi dengan peningkatan produktivitas karena petani sekarang sudah banyak menggunakan tekhnologi utuk bisa meningkatkan produktivitasya.
“Memang keniscayaan mekanisasi sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi memang jumlah petani makin lama makin menurun itu hal yang wajar di dunia ini tapi itu diiringi dengan peningkatan produktivitas karena petani-petani dia menggunakan teknologi untuk bisa meningkatkan produktivitasnya,” kata Arif kepada wartawan disalah satu Hotel di Manokwari, Selasa (30/01). [AND-R3]




















