Sorong, TP – Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Sekolah Manajemen dan Bisnis (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong kembali melaksanakan pelatihan penguatan kapasitas guru di bidang seni rupa.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor Unimuda Sorong Bidang Inovasi, Riset dan Kerjasama, Sirojjuddin, M.Pd bertempat di Gedung Pascasarjana Sorong, Sabtu (5/7/2025) dengan tujuan untuk meningkatkan kreatifitas guru di Kabupaten Sorong.
Di mana lebih dari 20 guru seni dan prakarya dari Kabupaten Sorong turut ambil bagian mengikuti pelatihan tersebut.
Pada tahun kedua ini, Tim Pengabdian ITB melibatkan dua akademisi SBM ITB, yakni Dr.Eng Nur Budi Mulyono dan Annisaa Novieningtyas, MSM. Serta empat akademisi FSRD ITB yakni, Dr. Muksin, S.Sn, Zusfa Roihan, S.Sn, M.Sn. Raisa Ulima Mulyono, dan Kayla Davina Hafsah.
Perwakilan Tim FRSD ITB, Dr. Muksin, S.Sn mengatakan, kegiatan kali ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pada tahun sebelumnya. Bedanya, jika pada tahun lalu praktik pembuatan karya seni rupa menggunakan media tisu, pada tahun ini pengaplikasiannya sudah menggunakan kain mori dengan teknik celup ikat.
“Teknik celup ikat merupakan warisan budaya dan tradisi turun menurun dari nenek moyang, terutama di Jawa. Maka hal ini perlu diajarkan kepada siswa-siswi di sekolah agar tradisinya tidak luntur. Apalagi di negara lain seperti China maupun Jepang teknik celup ikat sangat berkembang. Misalnya tie dye maupun shibori,” ujar Muksin.
Pengaplikasian teknik celup ikat langsung menggunakan kain juga dimaksudkan agar hasilnya bisa menjadi produk aplikatif.
“Produk aplikastif ini misalnya kain pantai, daster, atau baju pantai, jilbab, syal, sapu tangan dan sebagainya. Sehingga hasil dari teknik celup ikat ini bisa memiliki nilai ekonomis yang bisa menjafi pundi-pundi rupiah ketika dijadikan industri kerajinan rakyat,” jelasnya.
Menurutnya, anak-anak generasi muda perlu sejak dini diperkenalkan dengan teknik tersebut sehingga setelah dewasa mereka sudah mampu mengembangkan kesenian tersebut.
Dikatakan Muksin, teknik celup ikat tersebut juga tidak hanya bisa diaplikasikan di kain mori. Melainkan bisa diaplikasikan langsung ke pakaian berbahan katun. Dengan teknik yang mudah, celup ikat diharapkan bisa eksis dan terus diminati generasi muda.
Selain itu, pelatihan tersebut juga mengajarkan peserta untuk menggambar. Materi pola gambar diberikan oleh Zusfa Roihan, S.Sn M.Sn. Dimana lewat gambar itu, ada cerita atau pesan yang bisa disampaikan. Sehingga gambar itu lebih bernilai, bukan hanya tentang estetika tetapi juga ada nilai kreatifitasnya.
Gambar sendiri menjadi salah satu instrumen untuk menyampaikan pesan, selain dengan komunikasi verbal. Jadi orang tidak harus bisa menggambar dengan bagus, tetapi dia harus bisa memvisualisasikan cerita yang ingin disampaikan lewat gambar.
Tak hanya memberikan ilmu tentang membuat karya seni rupa, dalam pelatihan ini Tim SBM ITB juga memberikan ilmu tentang pengenalan dasar. Dimana hal itu bertujuan untuk memudahkan peserta pelatihan dalam memasarkan ekonomi kreatif.
Perwakilan Tim SBM ITB, Dr. Eng. Nur Budi Mulyono, menambahkan, ilmu bisnis yang diberikan tentunya berbasis kepada kearifan lokal setempat.
Harapannya, pasca mendapatkan pelatihan pembuatan produk karya seni rupa, produknya bisa lebih bernilai ekonomis.
“Hal itu selaras dengan goals program pengabdian ini yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif. Sehingga aspek bisnis dari kegiatan ini juga harus ada, disitulah peran SBM. Jadi kalau FSRD membantu menyiapkan karyanya, maka SBM bagian pemasarannya,” sebut Nur Budi Mulyono.
SBM mengambil peran untuk melihat pasar dari produk seni yang dihasilkan masyarakat serta insight terhadap produk tersebut. Adapun ilmu terkait dasar-dasar bisnis seperti segmenting, targeting dan positioning (STP) juga diberikan.
Pihaknya menilai, dari hasil karya seni yang dibuat tersebut memiliki prospek penjualan yang cukup baik. Di mana cuaca di Sorong, Papua Barat Daya dan Indonesia timur pada umumnya cukup panas sehingga butuh pakaian berbahan tidak terlalu tebal intuk kenyamanan beraktivitas.
Melalui kegiatan ini, ia berharap eksistensi karya seni rupa akan terus terpelihara bahkan bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Sehingga di kemudian hari, peserta pelatihan bisa menjadi seorang entrepreneur. (CR24)




















