Manokwari, TP – Dua daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, yakni DAS Wosi dan Wariori berada dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat.
Dosen dan Kepala Laboratorium Kehutanan, Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Dr. Mahmud mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya yang terbaru, kedua DAS itu sedang menghadapi ancaman kerusakan parah akibat alih fungsi lahan dan penambangan emas ilegal.
Menurutnya, DAS Wosi menjadi prioritas utama untuk dipulihkan, karena sering terjadi banjir dan sedimentasi di daerah tersebut. Lanjut Mahmud, DAS Wosi yang hilirnya berada di sekitar Pasar Wosi, banyak beralih fungsi.
Dijelaskannya, daerah yang seharusnya tidak ditimbun, justru dipadati pemukiman dan aktivitas penimbunan. Akibatnya, aliran air terhambat dan memicu genangan maupun banjir saat hujan dengan intensitas tinggi.
Bukan hanya di hilir, ungkap Mahmud, kerusakan juga terjadi di kawasan hulu sungai Wosi, tepatnya di daerah Inggramui. Di daerah itu, ia menjelaskan, terjadi banyak penebangan dan pematangan lahan untuk pembangunan pemukiman.
“Saya sendiri pernah ditawarkan tanah di sana. Padahal, kita harus menyadari bahwa daerah hulu adalah daerah perlindungan yang tidak boleh dibuka untuk ladang atau pemukiman,” ujar Mahmud kepada Tabura Pos di Aston Niu Hotel, Manokwari, Senin (8/9/2025).
Untuk DAS Wariori, Mahmud mengatakan, DAS tersebut menghadapi ancaman yang tak kalah serius akibat aktivitas penambangan emas ilegal. Menurutnya, DAS tersebut memiliki hulu yang berada di Kabupaten Tambrauw dan Pegunungan Arfak (Pegaf).
Ia membeberkan, pada DAS Wariori, sekitar 60 persen cagar alam yang berada di Pegaf dan daerah tersebut adalah daerah pegunungan atau tinggi yang seharusnya dilindungi. “Aktivitas penambangan ilegal di DAS Wariori sangat merusak dan mempercepat sedimentasi,” kata Mahmud.
Ia meminta agar kedua DAS tersebut harus segera dipulihkan untuk mencegah bencana yang lebih besar, seperti banjir bandang.
“Jangan salahkan hujan, karena hujan adalah input air terbesar di muka bumi. Penyebab utamanya adalah ulah manusia. Di Wosi, karena alih fungsi lahan, sedangkan di Wariori karena penambangan emas ilegal,” beber Mahmud.
Dirinya menyarankan pemerintah segera menerbitkan kebijakan yang jelas dan tegas, termasuk melakukan aksi nyata untuk menghentikan alih fungsi lahan dan pembangunan pemukiman.
“Untuk kawasan hulu di Inggramui diperlukan langkah perlindungan dengan melibatkan masyarakat. Pemerintah harus melindungi masyarakat dan mengedukasi untuk tidak menjual tanahnya. Kalau ada pembukaan lahan, seharusnya bukan untuk pemukiman, tetapi untuk perkebunan. Sedangkan untuk DAS Wariori juga perlu ada kebijakan khusus,” tandas Mahmud. [AND-R1]




















