Bintuni, TP — Di usia yang hampir menyentuh satu abad, Tarwin Bin Casim tak berhenti menapakkan kakinya di ladang. Pria berusia 98 tahun ini masih setiap hari mengolah lahan pertanian di Kampung Argosigemarai, Jalur 1, Distrik Bintuni Timur, membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Warga transmigran asal Indramayu, Jawa Barat, yang direkrut ke Bintuni sejak 1994 ini kini harus berjuang lebih berat. Musim kemarau panjang membuat sumur sumber air di ladang mengering. Setiap hari, bersama istrinya yang berusia 65 tahun, ia harus mengangkut air dari rumah di Jalur 3 ke ladang di Jalur 1 menggunakan sepeda ontel dan jeriken, agar tanaman sayur-mayur tetap bertahan hidup.
“Kekeringan sudah satu bulan lebih. Sekarang kami bawa air dari rumah,” ujarnya dengan nada pasrah saat ditemui di ladang, Rabu (26/8/2026).
Tanaman cabai rawit, kangkung, jagung, dan sayur gedi yang diusahakan di lahan seluas satu hektare itu terhambat pertumbuhannya karena minim air. “Karena kekurangan air, tanaman jadi kecil-kecil. Kalau air cukup, sayurnya bagus,” ungkapnya.
Harga hasil panen pun tak menentu. Cabai rawit yang sempat menyentuh Rp200 ribu/kg kini turun ke Rp80 ribu/kg. Kangkung dijual Rp4 ribu per ikat, jagung Rp2–3 ribu per tongkol, dan sayur gedi Rp4 ribu per ikat. Pendapatan dari ladang ini menjadi tumpuan hidup, meski lahan yang diolah bukan miliknya sendiri. Lahan Usaha II (LU 2) yang seharusnya menjadi haknya sebagai transmigran hingga kini belum terbagi.
Tarwin mengaku pernah menjadi anggota TNI Angkatan Laut sebelum akhirnya memilih menempuh hidup sebagai petani. Ia ayah dari tiga anak, sudah memiliki cucu dan cicit, dan kini hidup bersama istri keempatnya. Tiga istri sebelumnya menetap di Pulau Jawa.
Di usia senja, di tengah keterbatasan air dan harga yang tak menentu, Pak Tarwin tak menyerah. Setiap tetes air yang diangkut, setiap tanaman yang dirawat, adalah bukti keteguhan hati untuk tetap berdiri di atas tanah yang dijadikan ladang penghidupan.
Perjuangan sederhana Tarwin menjadi potret nyata: di Bintuni, di ladang yang mulai kering, masih ada orang yang memetik harapan dari keringat sendiri, meski usia telah nyaris satu abad.[CR25-R2]










