Manokwari, TP – Pasar Sentral Sanggeng, Kabupaten Manokwari, yang sebelumnya dibangga-banggakan menjadi pasar modern, ternyata belum sesuai ekspektasi pemerintah, termasuk pemerintah daerah.
Khusus lapak yang disediakan untuk pedagang kuliner di lantai 3, sebelumnya digadang-gadang menjadi pusat kuliner baru. Namun, ekspektasi itu terlihat jauh, pada 15 September 2026.
Lapak yang disediakan untuk para pedagang kuliner, terlihat hanya ada 1 pedagang, yakni warung sate Sidorukun yang dikelola Darmi dan istrinya.
Darmi mengaku sudah berjualan di lantai 3, Pasar Sentral Sanggeng sejak Februari 2026 sampai sekarang.
“Awalnya ada teman. Karena di lantai tiga ini sepi, makanya teman pada turun, jualan di bawah. Kalau yang di sebelah jual mie rebus, sudah tidak jualan, karena barang dan kompor, semua dicuri orang,” beber Darmi yang ditemui Tabura Pos di tempat jualannya, Selasa, 15 September 2026.
Menurutnya, sejak Februari sampai sekarang, pendapatannya dari berjualan sate ayam, sangat memprihatikan. Sebab, pembeli bisa dihitung dengan jari. Dalam seminggu, paling banyak hanya 10 pembeli, bahkan terkadang harus merugi lantaran tidak ada pembeli.
“Dulu saya jualan di bawah pasar sementara, masih lumayan, tapi setelah di sini, sehari hanya masak satu kilo beras dan satu ayam. Itu pun kadang nasi dibuang karena basi, tidak ada yang beli. Ada pelanggan, tapi rata-rata malas naik, karena di lantai tiga,” beber Darmi.
Diakui Darmi, ia dan sang istri sudah berpikir untuk mencari tempat jualan yang baru, tetapi pertimbangan penertiban, sehingga masih enggan untuk berpindah, termasuk mempertimbangkan biaya sewa dan lainnya.
“Namanya kita pedagang kaki lima, pasti paling ada penertiban. Kalau di sini, tempat sudah dibagi dan untuk sementara belum ada retrubusi. Tapi setiap bulan ada bayar pajak Rp50.000 per bulan,” rinci Darmi.
Dirinya berharap pemerintah daerah (pemda) melalui dinas terkait bisa menata kembali para pedagang agar bisa memenuhi Pasar Sentral, sehingga perputaran ekonomi berjalan, khususnya terhadap pedagang kuliner di lantai 3.
“Kalau lantai dua banyak pedagang, biasanya ada pembeli, tapi masih banyak yang kosong. Rata-rata alasannya capek naik dan turun tangga, sehingga beli di bawah. Memang ada orang dari dinas pernah tertibkan, tapi sekarang kembali lagi,” pungkas Darmi. [SDR-R1]










