Manokwari, TP – Sejauh ini belum ada hasil dari uji laboratorium terhadap sampel makan bergizi gratis (MBG) di SD 45 Arowi, Kabupaten Manokwari.
Kepala BPOM Manokwari, Agustince Werimon mengatakan, pihaknya masih menunggu data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manokwari untuk parameter ujinya.
“Kami masih menunggu dari Dinkes untuk parameter ujinya,” kata Agustince Werimon yang dikonfirmasi Tabura Pos via WhatsApp, Sabtu (2/8/2025).
Sebelumnya, BPOM mengklaim bahwa Dinkes sudah berkoordinasi dengan BPOM terkait dugaan keracunan makanan di SD 45 Arowi, Manokwari usai menyantap MBG.
Selain itu, sampel makanan sudah diserahkan untuk diuji di laboratorium guna menyelidiki penyebab keracunan makanan yang dialami para pelajar tersebut.
Pengambilan sampel makanan untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan yang disajikan dalam program MBG dan mengidentifikasi apakah ada kontaminasi yang menjadi penyebab keracunan.
Para orangtua pun mengaku trauma atas kejadian itu, sehingga berharap aparat kepolisian dan para pihak terkait bisa menindaklanjuti kejadian tersebut agar tidak terulang lagi.
Kualitas Makanan
Secara terpisah, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, Barnabas Dowansiba, M.Pd meminta pihak ketiga untuk memperhatikan kualitas makanan yang disiapkan untuk program MBG terhadap para pelajar di wilayah Papua Barat.
Hal ini disampaikan Dowansiba menanggapi dugaan keracunan makanan yang dialami para pelajar di daerah Arowi, Kabupaten Manokwari, belum lama ini.
Dikatakannya, ketika orangtua siswa melarang anaknya memakan makanan dari program MBG, maka itulah efek social yang ditimbulkan akibat insiden keracunan tersebut.
“Orangtua dan siswa-siswi kita akan trauma dengan kondisi yang ada. Saya dapat informasi bahwa anak-anak kita di Manokwari juga mengalami keracunan,” kata Dowansiba kepada para wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat, Jumat (1/8/2025).
Untuk itu, ia berharap pihak ketiga yang menyiapkan makanan dapat memperhatikan kualitas dari makanan, karena yang dilayani adalah manusia.
“Kualitas makanan harus dijaga dengan baik supaya tidak membuat peristiwa seperti ini karena itu akan menimbulkan persoalan bagi semua anak dan orangtua,” tandas Dowansiba.
Menurutnya, tujuan pemerintah terkait program MBG ini sangat bijaksana karena mengurangi biaya orangtua untuk berbelanja anaknya di sekolah.
“Tujuan pemerintah baik, tetapi ada kelalaian dalam proses pengolahan makanan. Inilah yang saya tidak tahu apa sebabnya, tetapi ini bukan tugas kami, tapi pihak terkait,” ujar Dowansiba.
Dirinya meminta insiden seperti ini tidak terulang lagi dan memberikan kinerja terbaik terhadap anak-anak sebagai generasi muda Papua ke depan.
“Pemerintah telah mengeluarkan anggaran yang besar. Marilah kita bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik agar anak-anak kita dapat menikmatinya dengan baik,” tutup Kepala Dinas Pendidikan ini. [AND/FSM-R1]




















